Penyelesaian Seluruh Proses
Ada satu pertanyaan yang semakin lama semakin sulit saya hindari:
Kapan semuanya selesai?
Bukan selesai satu pekerjaan. Bukan selesai satu masalah. Bukan selesai satu hubungan, satu fase hidup, satu pekerjaan, satu kewajiban, atau satu pertanyaan.
Saya sedang bertanya tentang seluruh proses.
Karena semakin lama saya hidup, semakin jelas bahwa kehidupan bukan sebuah garis yang berjalan menuju satu titik lalu berhenti dengan sendirinya. Ia lebih mirip perjalanan yang terus memperbarui dirinya. Satu masalah selesai, masalah lain muncul. Satu pengetahuan ditemukan, ketidaktahuan baru terbuka. Satu tujuan tercapai, horizon bergeser lagi. Saya maju, tetapi horizon juga maju.
Saya pernah mencoba memikirkan ini dengan cara yang sederhana. ini juga sudah saya tulis di INTI 0080 - Mendekati Tanpa Memiliki
kita dititik = 1
horizon dititik = 11
kita maju = 2
horizon dititik = 12
kita maju = 3
horizon dititik = 13
kita = n
horizon = n + 10
Jaraknya tetap.
Sepuluh.
nah 10 itu adalah fixed horizon. dalam bahasa program angka 10 adalah hardcode batas yang dikehendakinya.
Saya maju, tetapi horizon tidak saya tangkap.
Saya berpikir, horizon ikut berpikir.
Saya mengerti sesuatu, lalu sesuatu yang lebih jauh menunggu untuk tidak saya mengerti.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa kesadaran bisa begitu melelahkan.
Bukan karena tidak ada jawaban.
Justru karena setiap jawaban membuka ruang pertanyaan baru.
Turing, i, dan batas sebuah sistem
Awal hanya penalaran biasa kemudian masuk ke bilangan matematika. kenapa ada positif, negatif, kompleks
bilangan real, kompleks, desimal, dll.
ada yang menarik disini adalah bilangan imajiner dimana dihasilkan dari
[
i^2=-1
]
Saya pernah memandang persamaan:
[
i^2=-1
]
dan merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Bukan karena persamaan itu salah.
Karena memang menghasilkan dimensi yang berbeda (-1, 0) atau bentuk lain dari i^2=-1.
Awalnya hanya deret 1 dimensi (atau bilangan real) : 1, 2, 3, 4, 5, 6, dst
Lalu ada negatif, dimana contoh kasus 3-4=?
dalam konteks real ini tidak mungkin / tidak terdefinisi, karena misal
ada 3 apel dimeja, diambil 4 tentu akan 0. karena -1 apel dimeja itu tidak mungkin.
Lalu jika dimasukkan ke konsep saldo, hutang, arah, maka itu mungkin. jawabannya menjadi -1 apel (atau hutang 1 apel).
Kemudian bisa ada dua dimensi dimana ada bilangan kompleks : (-1, 0) atau menjadi koordinat.
Kemudian saya menyadari dimana suatu model tidak kompatibel, maka otak akan mencoba memodelkan sesuatu yang lebih tinggi lagi.
Dan akhirnya ada multidimensi array dalam istilah pemrograman
[1, 2, 3],
[4, 5, 6],
[7, 8, 9],
Contoh diatas hanya sebagian kecil, yang membuat persamaan imajiner menjadi mungkin.
Justru karena saya ingin bertanya lebih jauh:
Apa sebenarnya
i?
Kita lalu masuk ke bilangan kompleks. Kita menemukan bahwa sesuatu yang semula tidak tersedia dalam bilangan real dapat diberi tempat melalui perluasan domain.
Kita tidak sedang menemukan apel aneh bernama i.
Kita sedang memperluas ruang representasi.
Operasinya saja yang tidak tersedia dalam domain itu.
Kita bisa mengatakan:
stok tidak mencukupi.
Lalu ketika domain diperluas menjadi saldo, selisih, posisi, atau bilangan bulat, kita mendapatkan:
sesuatu yang menarik yah -1.
Di sini saya belajar sesuatu yang tampaknya sederhana, tetapi ternyata besar:
Ada domain.
Ada aturan.
Ada keadaan.
Ada operasi.
Barulah ada hasil.
$$
\boxed{
(\text{domain} + \text{aturan} + \text{state} + \text{operasi})
\rightarrow
\text{hasil}
}
$$
Kemudian saya membawa cara berpikir itu kepada manusia.
Dan tiba-tiba manusia juga tampak seperti sistem yang terus berjalan.
Ia memiliki keadaan.
Ia memiliki ingatan.
Ia punya aturan yang diyakini.
Ia menerima dunia.
Ia menafsirkan.
Ia memilih.
Ia bertindak.
Kemudian dunia memberikan hasil.
Hasil itu kembali menjadi pengalaman.
Pengalaman menjadi state baru.
State baru membentuk pilihan berikutnya.
Dan proses berjalan lagi.
Lagi.
Lagi.
Lagi.
Saya lalu menemukan Kasus Turing, dimana dia adalah salah satu pelopor di bidang IT. dimana domain saya saat ini yang cukup kuat adalah IT, karena saat ini saya sudah bekerja 8 tahun di bidang IT + 3 tahun SMK. jadi sekitar 11 tahunan.
Di sana pertanyaan menjadi semakin aneh.
Ada problem tentang apakah sebuah proses dapat diputuskan dari dalam sistem yang menjalankannya.
Dan saya berpikir:
Bagaimana jika masalah itu bukan ketidakmungkinan mutlak, melainkan batas dari domain yang sedang kita gunakan?
Saya menolak terlalu cepat mengatakan “tidak bisa”.
Karena sepanjang hidup manusia, berkali-kali sesuatu yang dahulu tidak bisa dilakukan akhirnya hanya menunjukkan bahwa model lama terlalu sempit.
Tetapi ada satu hal yang semakin saya pahami:
Memperluas sistem tidak menjamin horizon menghilang.
Kita mungkin hanya memindahkannya.
Dari bilangan natural ke bilangan bulat.
Dari bilangan real ke kompleks.
Dari komputasi klasik ke komputasi yang lebih luas.
Dari model sederhana ke model yang lebih rumit.
Horizon bergerak.
Dan akhirnya saya sadar bahwa mungkin masalah terbesar manusia bukan sekadar tidak mengetahui.
Masalahnya adalah:
kita ingin mengetahui kapan ketidaktahuan itu selesai.
karena memang manusia atau bahkan saya sendiri sangat suka berfikir
AWAL -> PROSES -> AKHIR
Tubuh pun mengenal batas
Sebelum semua pertanyaan menjadi filsafat, tubuh sudah lebih dahulu berbicara.
Tubuh bisa lapar.
Tubuh bisa letih.
Tubuh bisa marah.
Tubuh bisa jenuh.
Tubuh bisa ingin berhenti.
Kadang saya berpikir terlalu lama sampai lupa bahwa saya tetap mempunyai tubuh yang sederhana.
Tubuh tidak memahami semua teori yang saya susun.
Ia hanya berkata:
“Saya capek.”
Dan jika saya memaksanya, tubuh akan mengubah bahasanya menjadi emosi.
Saya bisa menjadi mudah marah.
Mudah menyalahkan.
Mudah merasa dunia menjengkelkan.
Bukan karena seluruh hidup tiba-tiba salah, tetapi karena ada bagian paling dasar dari diri saya yang meminta sesuatu yang sangat sederhana: istirahat, makan, ruang, dan jeda.
Di titik ini saya belajar bahwa kesadaran tidak pernah berdiri sendirian.
Saya bisa memikirkan alam semesta, tetapi tetap membutuhkan makanan.
Saya bisa bertanya tentang akhirat, tetapi tetap memiliki tubuh yang harus tidur.
Saya bisa memikirkan kematian, tetapi tetap hidup di dalam sistem biologis yang setiap hari meminta saya melanjutkan.
Mungkin ini terdengar kecil.
Tetapi justru di situlah ironisnya.
Kita dapat memahami sesuatu secara intelektual dan tetap merasakan beratnya secara biologis.
Lelah mental yang tidak selalu berarti ingin menyerah
Ada jenis lelah yang lebih sulit dijelaskan.
Bukan tubuh.
Bukan juga sekadar sedih.
Lebih seperti:
“Saya sudah mengerti terlalu banyak untuk kembali tidak tahu, tetapi saya belum memiliki jalan keluar dari apa yang sudah saya mengerti.”
Itu membuat seseorang bisa tetap bekerja.
Tetap tertawa.
Tetap berbicara.
Tetap mencintai.
Tetap membuat sesuatu.
Tetap menyelesaikan kewajiban.
Secara luar, tidak ada keruntuhan besar.
Tetapi di dalam, ada bagian yang berkata:
“Sudah cukup.”
Saya mengenali kalimat itu.
Dan saya tidak ingin membohongi pembaca dengan mengatakan bahwa orang yang hidupnya berjalan normal pasti tidak pernah memiliki percakapan seperti ini dengan dirinya sendiri.
Justru manusia paling berbahaya bagi dirinya sendiri kadang bukan ketika semuanya terlihat hancur, melainkan ketika semuanya terlihat normal sementara di dalam ada kelelahan yang tidak memiliki bahasa.
Saya pernah merasakan ketertarikan pada gagasan tentang akhir.
Bukan karena saya tidak tahu bahwa hidup memiliki keindahan.
Saya justru tahu bahwa hidup indah.
Itulah yang membuat pertanyaan ini semakin aneh.
Bagaimana sesuatu bisa indah, tetapi tetap melelahkan?
Bagaimana saya bisa bersyukur, tetapi tetap ingin selesai?
Bagaimana saya bisa mencintai kehidupan, tetapi juga merindukan suatu batas yang menutup seluruh proses?
Mungkin karena syukur dan lelah bukan dua kutub yang saling membatalkan.
Keduanya dapat hadir pada tubuh yang sama.
Pada hari yang sama.
Bahkan pada detik yang sama.
Atau mungkin sisi koin yang sama.
Ada kemungkinan manusia ingin menekan tombol selesai
Saya tidak akan berpura-pura bahwa kemungkinan itu tidak ada.
Manusia memiliki kemampuan untuk membayangkan kematian.
Manusia dapat melihat kematian sebagai akhir dari beban.
Manusia bahkan dapat membayangkan tindakan untuk mempercepatnya.
Kemungkinan itu nyata sebagai bagian dari kemampuan manusia untuk memikirkan pilihannya sendiri.
Tetapi justru karena sebuah tombol bisa dibayangkan, saya perlu membedakan:
$$
\boxed{\text{bisa}}
$$
dari:
$$
\boxed{\text{boleh}}
$$
Ada banyak hal yang mungkin dilakukan manusia tetapi tidak pantas dilakukan.
Anda mungkin tahu cara mengakhiri hidup, mengakhiri proses, dan instant langsung ke akhir.
Memang otak manusia sangat suka mencari jalan keluar instant.
Dan ada sesuatu yang sangat saya rasakan di dalam diri saya sendiri: malu. jika melakukan itu semua.
Bukan malu karena merasa lemah.
Bukan malu karena takut kepada manusia.
Tetapi malu jika setelah semua pencarian, semua pengetahuan, semua perjalanan, dan semua pertanyaan yang sudah saya bawa, saya justru mengkhianati struktur nilai yang saya yakini sendiri.
Saya masih punya harga diri.
Saya masih punya batas.
Saya masih mengenal ada sesuatu yang bukan menjadi hak saya untuk putuskan.
Maka muncul paradox yang aneh:
Saya dapat melihat sebuah jalan keluar, tetapi saya juga tahu bahwa jalan itu bukan jalan yang harus saya pilih.
Dan mungkin justru di situlah ujian menjadi nyata.
Kalau tidak ada pilihan, tidak ada ujian.
Kalau tidak ada godaan untuk mempercepat, tidak ada makna pada kesabaran.
Kalau tidak ada kemampuan untuk membayangkan tombol quit, kita tidak akan pernah benar-benar memahami apa arti tidak menekannya.
Saya tidak perlu menyangkal keberadaan tombol itu dalam bayangan manusia.
Saya hanya tidak perlu menjadikannya jalan yang saya tempuh.
Dan mungkin saya mengerti sedikit rasa ingin menekan itu, memang godaan yang sangat lezat bagi saya sendiri.
Mengapa kematian begitu menarik bagi pikiran yang lelah?
Karena kematian mempunyai satu kualitas yang hampir tidak dimiliki pengalaman lain:
$$
\boxed{\text{kepastian bahwa proses dunia tidak berlangsung selamanya}}
$$
Pekerjaan memiliki akhir, lalu pekerjaan berikutnya muncul.
Masalah memiliki akhir, lalu masalah berikutnya muncul.
Target memiliki akhir, lalu target baru muncul.
Horizon saya tadi bergerak bersama saya.
Tetapi kematian berbeda.
Ia bukan horizon yang harus saya kejar.
Ia adalah batas yang suatu hari datang kepada saya.
Saya tidak tahu kapan.
Saya tidak memiliki tanggalnya.
Saya tidak dapat mengunjunginya lebih dahulu untuk memastikan apa yang ada sesudahnya.
Tetapi saya tahu dalam kerangka iman saya bahwa ia ada.
Dan justru karena saya tidak dapat mengetahui waktunya, saya dipaksa hidup dalam proses yang sekarang.
Di sinilah kalimat “saya boleh belum tahu” memperoleh makna yang lebih besar.
Saya boleh belum tahu kapan.
Saya boleh belum tahu bagaimana.
Saya boleh belum tahu apa yang menunggu.
Saya bahkan boleh belum memahami semuanya.
Tidak mengetahui bukan berarti harus mempercepat datangnya jawaban.
Kadang jawaban memang memiliki waktunya sendiri.
Hanya kita yang dipaksa sabar, yah saya tahu itu memuakkan.
Memainkan peran yang dimana loop terus atau repetitif memang membosankan.
Contoh main game balapan, ya itu itu saja, bos selesai muncul bos lagi dan seterusnya. sekali lagi manusia butuh ini :
AWAL -> PROSES -> AKHIR
Mati bukan akhir seluruh proses
Semakin saya memikirkan kematian, semakin jelas bahwa dalam kerangka iman yang saya pegang, kematian bukan NULL.
Bukan penghapusan seluruh data.
Bukan terminal kosong.
Ia adalah pergantian fase.
Model yang saya gunakan untuk mendekatinya adalah:
$$
\boxed{
\text{Alam Roh}
\rightarrow
\text{Kandungan}
\rightarrow
\text{Dunia}
\rightarrow
\text{Mati}
\rightarrow
\text{Alam Barzakh}
\rightarrow
\text{Kebangkitan}
\rightarrow
\text{Hisab dan Mizan}
\rightarrow
\text{Akhirat}
}
$$
Saya menyebutnya “model” karena saya sedang mencoba memberi bentuk kepada sesuatu yang tidak dapat saya lihat sekarang.
Bukan untuk mengurangi kemuliaannya menjadi diagram.
Justru karena akal saya membutuhkan bentuk agar bisa mendekati sesuatu yang lebih luas daripada kemampuan saya.
Dunia, kalau demikian, bukan keseluruhan.
Dunia hanya satu domain dalam perjalanan.
Yang berarti Dunia hanyalah PROSES.
Kehidupan bukan hasil akhir.
Kehidupan adalah trajectory.
Di dalam kehidupan sendiri terdapat node-node kecil yang ternyata sangat besar:
cinta.
takut.
kerja.
kelaparan.
persahabatan.
perpisahan.
kehilangan.
kasih.
dosa.
taubat.
ilmu.
kebodohan.
kesombongan.
kerendahan hati.
pengampunan.
pilihan.
Semua itu berlangsung di dalam satu node bernama:
$$
\text{Dunia}
$$
Dan kita sering salah mengira node ini sebagai keseluruhan graph.
Mungkin karena node ini sangat besar.
Mungkin karena sensor kita hanya bekerja penuh di sini.
Mungkin karena kita terlalu sibuk menjalaninya sehingga lupa bahwa kita sedang berada di dalam perjalanan.
“Sungguh, Kami hendak mengujinya”
Al-Qur’an berkata:
إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya; karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”
(QS. Al-Insan: 2)
Ayat ini membuat saya memandang pendengaran dan penglihatan bukan sekadar kemampuan menerima dunia.
Keduanya berada di dalam konteks ujian.
Saya melihat.
Saya mendengar.
Saya memahami.
Saya kemudian memilih.
Dan ternyata kemampuan mengetahui bukan hanya hadiah.
Ia juga membawa tanggung jawab.
Semakin saya tahu, semakin luas kemungkinan pilihan yang saya lihat.
Tetapi saya juga tidak harus menguasai seluruh kemungkinan.
Saya hanya menjalani bagian saya.
Beban yang sesuai kesanggupan
Allah berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Saya dulu bisa membaca kalimat ini hanya sebagai:
“Kalau diuji, berarti pasti kuat.”
Sekarang saya membacanya lebih dalam.
Ayat yang sama juga mengajarkan doa:
رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Ada sesuatu yang indah di sini.
Kesanggupan dan permohonan pertolongan tidak saling bertentangan.
Saya boleh kuat.
Saya boleh lelah.
Saya boleh terus berjalan.
Saya juga boleh berkata:
“Ya Allah, ini berat.”
Itu bukan kegagalan.
Itu pengakuan.
Domain ini memang saya pakai agama islam, karena memang itu wilayah saya yang saya yakini.
Kalian bebas boleh percaya atau tidak. Setidaknya saya butuh (ground) kalau dalam teknik listrik sesuatu yang menjadi pegangan atau mengalirkan sesuatu.
Bukankah semakin mengingat justru semakin banyak bertanya?
Ini yang paling aneh.
Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Tentram yang bagaimana, Tentram seperti apa, disana hanya ada tentram. nah lagi lagi saya seakan menemukan potongan puzzle rahasia.
Tetapi saya mengalami satu paradoks:
Semakin mengingat, saya justru semakin bertanya.
Kenapa?
Kenapa ada?
Kenapa hidup?
Kenapa mati?
Kenapa saya melihat?
Kenapa saya diberi kemampuan berpikir?
Kenapa saya harus memilih?
Kenapa hidup tidak selesai sekarang?
Kenapa akhir harus menunggu?
Kenapa saya tidak boleh memilih sendiri terminal akhirnya?
Kenapa saya tidak boleh menekan tombol quit itu?
Kenapa?
Kenapa?
Kenapa?
Mungkin ketenteraman tidak selalu berarti pertanyaan berhenti.
Mungkin ketenteraman adalah keadaan di mana pertanyaan tetap ada, tetapi saya tidak lagi menuntut semua jawaban datang pada hari yang sama.
Saya bisa bertanya tanpa harus memiliki semuanya.
Saya bisa berpikir tanpa harus menaklukkan semuanya.
Saya bisa mendekati tanpa memiliki.
Saya bisa tahu bahwa ada horizon tanpa harus menangkapnya.
Dan mungkin di situlah saya mengerti sedikit tentang “saya boleh belum tahu”.
Dan yah lagi-lagi jawaban SABAR, seakan menutup semuanya. membosankan kan?
Orang-orang yang mengingat sambil berpikir
Allah juga berfirman:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.’”
(QS. Ali ‘Imran: 191)
Ayat ini tidak memisahkan dzikir dari tafakkur.
Mengingat dan berpikir berada di ruang yang sama.
Jadi mungkin saya tidak perlu mematikan pikiran untuk menjadi tenang.
Saya perlu menemukan tempat kembali ketika pikiran sudah terlalu jauh berjalan.
Sebab pikiran saya memang suka berjalan.
Kadang terlalu jauh.
Dan itu sangat melelahkan.
Manusia butuh makan, butuh uang, butuh keluarga, butuh validasi, butuh bahkan semua hal belum mencukupi.
Lagi lagi jawaban bersyukur dan sabar. yah memang sendau gurau saja kehidupan.
Dunia sebagai data perjalanan
Saya suka membayangkan kehidupan sebagai sebuah kumpulan state.
Bukan dalam arti bahwa manusia hanyalah angka.
Tetapi karena bahasa ini membantu saya melihat pola.
Saya lahir ke dunia dengan keadaan awal yang tidak saya pilih.
Kemudian:
S = State / Kondisi
$$
S_0
\rightarrow
S_1
\rightarrow
S_2
\rightarrow
S_3
\rightarrow \cdots
$$
Setiap pengalaman meninggalkan jejak.
Ada pilihan yang memperluas saya.
Ada pilihan yang mempersempit saya.
Ada kesalahan.
Ada perbaikan.
Ada cinta.
Ada kehilangan.
Ada sabar.
Ada marah.
Ada keikhlasan yang benar-benar ikhlas.
Ada keikhlasan yang ternyata masih bertanya. seperti sudah saya tulis di INTI 0062 - Ikhlas yang masih bertanya
Ada ilmu yang membuat saya rendah hati.
Ada ilmu yang hampir membuat saya merasa lebih tinggi.
Ada semuanya.
Maka dunia bukan sekadar tempat yang “terjadi”.
Dunia adalah perjalanan atau proses menuju sesuatu yang lebih besar dan lebih tidak bisa dibayangkan saat ini.
Dan jika akhirat adalah domain berikutnya dalam kerangka iman saya, maka seluruh perjalanan ini memiliki konsekuensi.
Implikasi diatas tetap pakai domain logika Jika -> Maka, atau dalam pemrograman IF: ELSEIF:, atau if: elif:
Allah berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Di sini saya membayangkan kehidupan bukan sebagai permainan yang hasilnya dilupakan.
Jejaknya dibawa.
Pilihan memiliki bobot.
Tidak ada node yang benar-benar kosong.
Kenapa bahkan sekecil zarah disebutkan?
Saya berfikir seperti Triger dalam database misal
- Table
Pengalaman-> ada trigertriger_pengalaman_after_insertakan menjalankan masuk ke tableneraca_mizan
Baik perbuatan buruk, baik, jelek, baik, jahat, amal, apapun pengalaman itu akan masuk langsung tanpa terkecuali, dengan argumen tambahan niat
jadi fungsinya simple
triger_pengalaman_after_insert
Logika ini masuk akal dalam konteks pemrograman Database, makanya kenapa saya bisa sangat menyakini konsekuensi. Karena saya paham betul dalam domain tsb sesuai yang saya tahu.
Kematian bukan hak untuk menentukan seluruh graph
Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati, dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Balasan terhadap apa?
Kenapa perlu dibalas?
Dibalas berdasarkan apa?
yah mungkin dari berdasarkan pengalaman database diatas?
Maka dari itu semua hal akan memiliki konsekuensi. Saya yakin itu dengan sangat pasti.
Dan:
فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
“Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat pula meminta percepatan.”
(QS. Al-A’raf: 34)
Ayat kedua ini sangat kuat jika saya baca melalui bahasa yang selama ini saya gunakan.
Ada sesuatu yang bernama batas atau limit
Tetapi batas itu bukan milik saya untuk saya hardcode sendiri.
Saya bisa memilih.
Saya bisa berusaha.
Saya bisa menempuh jalan.
Tetapi saya tidak diberi seluruh source code waktu hidup saya.
Saya bukan pemilik penuh atas proses.
Saya adalah bagian yang menjalani proses.
Dan mungkin itulah perbedaan antara:
$$
\text{daya memilih / kebebasan}
$$
dan:
$$
\text{kewenangan mutlak}
$$
Saya memiliki kehendak.
Tetapi saya bukan pemilik mutlak atas keberadaan saya.
Kita bisa memilih menekan tombol quit itu, tapi setelahnya apa?
Akan ada pertanyaan lagi.
Apa?
Apa?
dan Apa selanjutnya?
Akhir segalanya
Kemudian saya sampai pada bagian yang paling sederhana.
Akhir segalanya.
Bukan akhir satu masalah.
Bukan akhir satu pekerjaan.
Bukan akhir satu fase.
Bukan bahkan kematian.
Tetapi:
$$
\boxed{\text{penyelesaian seluruh proses}}
$$
Dalam kerangka yang saya pegang, dunia tidak berakhir pada kematian.
Kematian menjadi pintu.
Setelahnya ada alam Barzakh.
Kemudian kebangkitan.
Kemudian Masyar.
Kemudian hisab.
Kemudian mizan.
Kemudian akhirat.
Dan saya tidak perlu memaksa semua bagian itu menjadi peta teknis yang kalian yakini, karena ini hanya bahasa terdekat yang bisa saya pahami.
Cukup saya pahami sebagai orientasi atau arah saat ini
$$
\boxed{
\text{hidup bukan keseluruhan}
}
$$
Dan:
$$
\boxed{
\text{mati bukan keseluruhan}
}
$$
Maka mungkin yang selama ini saya rindukan bukan sekadar mati.
Saya merindukan:
$$
\boxed{\text{selesai}}
$$
Saya merindukan titik ketika tidak ada lagi yang perlu saya kejar.
Tidak ada horizon yang bergeser lagi.
Tidak ada:
$$
n+10
$$
yang selalu berubah menjadi:
$$
n+11, lalu n+12, kemudian n+13 yang tidak ada habisnya
$$
Tidak ada lagi “nanti saya mengerti”.
Tidak ada lagi “sebentar lagi”.
Tidak ada lagi “setelah ini apa?”
Bukan karena saya membenci kehidupan.
Justru karena saya sadar bahwa kehidupan sekarang adalah proses, dan saya sedang merindukan completion-nya atau return nya.
karena menurut saya .
Looping != perulangan Abadi.
Pasti akan ada keterbatasn memory.
Pasti ada return dalam pemrograman.
Pasti ada akhir lembaran dalam kehidupan.
Pasti ada nada terakhir yang berbunyi.
Dan itulah selesai yang saya maksud.
Tapi sabar ya untuk laian, dan untuk penulis Mabot
Kalau memang akhir itu ada, maka saya tidak perlu mencurinya.
Itu kalimat yang sederhana.
Dan mungkin sangat sulit.
Saya tidak perlu memaksa proses menjadi selesai.
Saya tidak perlu mempercepat sebuah batas yang bukan milik saya.
Saya tidak perlu membuktikan bahwa saya bisa.
Saya bahkan tidak perlu menekan tombol quit itu.
Saya hanya perlu menjalani state yang sekarang.
Besok datang.
Saya jalani.
Kalau lusa datang.
Saya jalani.
Kalau pertanyaan datang.
Saya jawab semampu saya.
Kalau belum tahu.
Saya berkata:
Saya boleh belum tahu.
Kalau lelah.
Saya istirahat.
Kalau lapar.
Saya makan.
Kalau sedih.
Saya akui.
Kalau senang.
Saya terima.
Kalau cinta datang.
Saya jangan takut menerimanya hanya karena saya tahu semuanya fana.
Karena fana bukan berarti sia-sia.
Sesuatu tidak menjadi tidak bernilai hanya karena ia mempunyai akhir.
Justru mungkin akhir itulah yang membuat satu pengalaman menjadi satu pengalaman yang utuh.
Kopi yang habis bukan berarti kopinya gagal.
Malam yang selesai bukan berarti malam tidak pernah ada.
Masa muda yang lewat bukan berarti masa muda sia-sia.
Dan hidup yang kelak berakhir bukan berarti hidup harus dipercepat.
Ada waktu untuk memulai.
Ada waktu untuk berjalan.
Ada waktu untuk berhenti sejenak.
Dan ada waktu yang bukan kita tentukan sendiri untuk benar-benar selesai.
Mungkin saya tidak membutuhkan tombol quit yang bisa saya tekan.
Mungkin saya hanya perlu percaya bahwa quit itu ada.
Dan untuk seseorang yang selama ini terus mencari struktur, mungkin itu sudah merupakan struktur yang cukup.
Saya tidak tahu seluruh jawaban.
Saya tidak tahu seluruh jalan.
Saya tidak tahu apa yang ada di ujung seluruh proses.
Tetapi saya tahu satu hal:
$$
\boxed{
\text{belum selesai}
}
$$
dan selama belum selesai:
$$
\boxed{
\text{saya akan mencoba tetap berjalan}
}
$$
Bukan karena saya harus selalu bersemangat.
Bukan karena setiap hari terasa indah.
Bukan karena saya sudah memiliki semua jawaban.
Tetapi karena saya masih berada di dalam proses yang belum mencapai batasnya.
Dan kalau suatu hari batas itu datang, ia tidak perlu saya panggil.
Ia akan datang sendiri.
Saya hanya perlu memastikan bahwa ketika sampai di sana, saya tidak datang dengan membawa penyesalan karena terlalu cepat meninggalkan perjalanan.
Setidaknya itulah yang saya yakini.
Pesan kepada Pembaca
Mungkin kamu juga pernah merasa seperti saya.
Tubuhmu masih bangun.
Pekerjaan masih berjalan.
Orang-orang masih berbicara denganmu.
Kamu masih tertawa.
Masih mencintai seseorang.
Masih mengerjakan hal-hal kecil.
Tetapi di dalam dirimu ada bagian yang sudah berkata:
“Saya ingin selesai.”
Jangan buru-buru membenci bagian itu.
Dengarkan.
Mungkin ia bukan sedang meminta kehancuran.
Mungkin ia sedang meminta istirahat.
Mungkin ia sedang meminta dunia berhenti sebentar.
Mungkin ia sedang meminta semua kebisingan berhenti.
Mungkin ia sedang merindukan suatu akhir yang belum waktunya datang.
Dan mungkin tugasmu bukan menemukan cara untuk mempercepat akhir.
Mungkin tugasmu hanya mengenali:
“Oh, ternyata yang saya rindukan adalah penyelesaian seluruh proses.”
Kematian bukan sesuatu yang perlu kita panggil untuk membuktikan bahwa proses bisa selesai.
Kematian akan datang pada waktunya.
Dan itu pasti bagi setiap manusia.
Yang belum kita ketahui adalah kapan.
Dan ketidaktahuan itu mungkin memang bagian dari perjalanan.
Maka ketika hari ini terasa berat, jangan tuntut dirimu untuk mengetahui seluruh alasan kehidupan.
Cukup jalani satu state.
Satu hari.
Satu pekerjaan.
Satu percakapan.
Satu doa.
Satu napas.
Bukan karena hidup harus dipuja.
Bukan karena penderitaan harus disukai.
Tetapi karena kita belum sampai pada halaman terakhir.
Dan mungkin halaman terakhir memang bukan milik kita untuk ditulis sekarang.
Jadi, untuk diriku sendiri dan untuk siapa pun yang membaca:
Tidak apa-apa belum tahu.
Tidak apa-apa lelah.
Tidak apa-apa bertanya.
Tidak apa-apa merasa hidup terlalu panjang hari ini.
Yang tidak perlu dilakukan adalah memaksa akhir datang sebelum waktunya.
Biarkan proses menyelesaikan dirinya.
Sabar ya untuk kalian, dan untuk diri saya sendiri sabar ya Mabot.
✍️ Ditulis sebagai bagian dari rangkaian INTI – Interkoneksi Narasi Teknologi Intelektual.
0089 – Penyelesaian Seluruh Proses