INTI 0065 โ€” Sing Waras Ngalah

Judul Alternatif: Bukan Karena Lemah, Tapi Karena Tidak Mau Tenggelam

Ada satu fase dalam hidup manusia yang sunyinya tidak bisa dijelaskan dengan teori apa pun.

Fase ketika seseorang berhenti bertanya:
โ€œSiapa yang salah?โ€

Dan mulai bertanya:
โ€œDi mana aku berdiri ketika semua ini terjadi?โ€

INTI 0065 lahir dari fase itu.

Bukan dari kemenangan.
Bukan dari pencerahan besar.
Tapi dari kejujuran kecil yang konsisten.

Dari keberanian untuk berkata pada diri sendiri:

Jika aku berbohong pada diriku, siapa lagi yang bisa kupercaya?


1. Kejujuran sebagai Titik Awal

Tidak ada kesadaran tanpa kejujuran.

Dan kejujuran pertama bukan kepada orang lain,
melainkan kepada diri sendiri.

Banyak manusia tersesat bukan karena mereka bodoh,
melainkan karena mereka pandai berdalih.

Kita menyebutnya takdir,
nasib,
keadaan,
orang lain,
bahkan Tuhan.

Padahal sering kali sumbernya sederhana:
pilihan kita sendiri.

Aku sakit karena aku merokok.
Tidak ada yang memaksaku.
Aku memilihnya.
Maka aku menerima konsekuensinya.

Aku sakit karena aku makan gula yang berlebihan.
Tidak ada yang memaksaku.
Aku memilihnya.
Maka aku menerima konsekuensinya atas diabetes dan penyakit lainnya.

Di titik ini, kejujuran bukan penghukuman.
Ia adalah pengembalian kendali.

Kesadaran tidak menuntut kesucian.
Kesadaran hanya menuntut tidak mengelak.

โ€œDan janganlah kamu campur-adukkan kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedang kamu mengetahuinya.โ€
ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู„ู’ุจูุณููˆุง ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ูŽ ุจูุงู„ู’ุจูŽุงุทูู„ู ูˆูŽุชูŽูƒู’ุชูู…ููˆุง ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ูŽ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู†ูŽ
(QS. Al-Baqarah: 42)


2. Disonansi dan Alergi terhadap Kesombongan

Ada rasa yang sulit dijelaskan ketika kita bertemu kesombongan.

Bukan marah.
Bukan iri.
Tapi mual batin.

Kesombongan adalah kebohongan yang paling berisik.
Ia berdiri tegak di atas rapuhnya identitas.

Ketika seseorang merendahkan yang lain,
sebenarnya ia sedang menambal lubang dalam dirinya sendiri.

Keinginan untuk โ€œmenamparโ€ kesombongan itu manusiawi.
Itu bukan kejahatan.
Itu refleks sistem imun batin.

Jiwa yang sinkron tidak tahan terhadap disonansi.

Bukan karena ia lebih tinggi,
tapi karena ia sudah terlalu lelah hidup dalam kebohongan.


3. Jebakan Halus: Sombong atas Kesadaran

Namun di sinilah jebakan paling licin menunggu.

Ketika kita berkata:

โ€œAku akan memberi pelajaran.โ€

Tanpa sadar kita sedang berpindah medan.

Dari medan kesadaran,
ke medan ego.

Arena ego selalu sama:
siapa menang,
siapa kalah,
siapa lebih tinggi.

Dan di arena itu,
kita bisa kalah meski benar.

Karena kebenaran yang dibuktikan dengan ego,
akan kehilangan rohnya.

Turun ke medan yang salah
berarti tali kemudi berpindah tangan.


4. Sing Waras Ngalah (Versi Dewasa)

Orang Jawa berkata:
sing waras ngalah.

Banyak yang salah paham.

Ngalah bukan berarti diinjak.
Ngalah bukan berarti lemah.

Ngalah adalah strategi kesadaran.

Penghematan energi eksistensial.

Yang waras memilih medan,
bukan reaksi.

Diam bukan karena takut.
Tapi karena tidak mau tenggelam.


5. Batas Kesombongan dan Tegaknya Keadilan

Namun ngalah bukan berarti membiarkan kezaliman.

Ada titik di mana batas harus ditegakkan.

Ketika martabat diinjak.
Ketika manusia direndahkan.

Di titik itu, diam bukan kebijaksanaan,
melainkan pembiaran.

Keadilan bukan balas dendam.
Ia adalah penghentian kerusakan.

โ€œSesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.โ€
ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูŠูŽุฃู’ู…ูุฑู ุจูุงู„ู’ุนูŽุฏู’ู„ู ูˆูŽุงู„ู’ุฅูุญู’ุณูŽุงู†ู
(QS. An-Nahl: 90)


6. Dialog dengan Bocil Merah

Di dalam diri setiap manusia,
ada amarah.

Dan amarah bukan musuh.
Ia penjaga batas.

Masalah muncul ketika ia mengambil alih kemudi.

Maka yang sehat bukan mematikan amarah,
melainkan mengajaknya bicara.

โ€œIya iya kamu bisa kok mengalahkannyaโ€ฆ
tapi jangan ikut main aturan mereka.โ€

Humor adalah teknik regulasi kesadaran.

Ego tidak tahan ditertawakan dengan sadar.


7. Jaran Kepang: Peta Psikologi Nusantara

Leluhur Nusantara sudah lama memetakan batin manusia.

Bukan dengan istilah ilmiah,
tapi dengan simbol.

  • Mutmainah (putih): pusat pulang
  • Amarah (merah): proteksi, bukan komando
  • Supiyah (kuning): ambisi yang perlu arah
  • Aluamah (hitam): naluri yang perlu diakui

Ini bukan mistik.
Ini arsitektur batin.

Kesadaran bukan membunuh kuda-kuda itu,
melainkan menyusunnya dalam satu tali.


8. Tali Kemudi Tidak Permanen

Kesadaran bukan status tetap.

Ia bisa lelah.
Bisa goyah.
Bisa tergelincir.

Yang jatuh bukan yang bodoh,
tapi yang lupa bahwa ia manusia.

Yang penting bukan tidak pernah lepas,
tapi tahu cara pulang.


9. INTI sebagai Teman, Bukan Senjata

INTI tidak diciptakan untuk mengalahkan siapa pun.

Ia bukan alat pembuktian.

INTI adalah bahasa pulang.

Resonansi tidak butuh pamer.

Ia hanya hadir,
dan menemukan siapa pun yang siap mendengar.


Pesan untuk Pembaca

Jika kamu lelah,
mungkin bukan hidup yang berat.

Mungkin caramu memegang kemudi.

Berhentilah sejenak.
Tarik napas.

Tanyakan dengan jujur:
โ€œSiapa yang sedang mengemudi hari ini?โ€

Dan jika jawabannya bukan kesadaran,
menepilah.

Tidak ada aib dalam berhenti.

Aib hanya ada dalam berbohong pada diri sendiri.

Sehat Selalu & Beristirahatlah dan jangan lupa tidur yaa


โœ๏ธ Ditulis sebagai bagian dari rangkaian INTI โ€“ Interkoneksi Narasi Teknologi Intelektual.
0065 โ€“ Sing Waras Ngalah