INTI 0068
Enkripsi Kesadaran: Titen, Primbon, dan Ingatan yang Tidak Ditulis
Ada pengetahuan yang tidak pernah meminta untuk dipahami.
Ia hanya ingin bertahan.
Ia tidak berisik.
Tidak mencari pengakuan.
Tidak menuntut validasi.
Ia hidup diam-diam—di ladang, di tubuh petani, di kebiasaan orang tua,
di keputusan yang diambil tanpa tahu alasannya secara logis,
namun entah kenapa… sering selamat.
Orang Jawa menyebutnya titen.
Sebagian menyimpannya dalam primbon.
Sebagian lagi hanya menyimpannya di rasa—tanpa nama.
Hari ini, ketika dunia modern sibuk mengoleksi data,
menyebut semuanya sebagai machine learning, pattern recognition, atau AI,
ada ironi kecil yang lucu:
Banyak yang menertawakan primbon,
tapi hidupnya diselamatkan oleh metodologi yang sama.
Tulisan ini bukan pembelaan.
Bukan romantisasi masa lalu.
Ini hanya pengakuan jujur bahwa ada bentuk kecerdasan
yang tidak pernah minta ditulis.
Dan justru karena itu, ia bertahan lama.
1. Titen sebagai Sistem Enkripsi Pengalaman
Titen bukan mencatat segalanya.
Ia justru membuang hampir semuanya.
Yang disimpan bukan kejadian,
melainkan pola yang tetap muncul meski keadaan berubah.
Hujan, angin, panen, sakit, konflik, perpindahan musim—
semuanya lewat.
Yang tinggal hanyalah:
- “Kalau begini, biasanya begitu.”
- “Kalau rasanya seperti ini, sebaiknya jangan memaksa.”
Ini bukan data mentah.
Ini compressed lived experience.
Seperti hidup yang sudah dipadatkan
hingga hanya menyisakan inti yang tidak bisa dipatahkan oleh waktu.
Dalam Jawa, Titen (meniteni) itu bukan “kebiasaan kuno”.
Itu algoritma paling dasar yang pernah ada:
- observasi berulang
- pencatatan mental
- pengenalan pola
- pemberian tanda (flag)
- prediksi berbasis kecenderungan
Kalau kita ganti bahasanya:
| Jawa | IT |
|---|---|
| meniteni | data collection |
| titèn | feature |
| pratandha | signal |
| wanci | time series |
| owah-owahan alam | variance |
| pawukon | calendar model |
| primbon | rule-based + heuristic model |
Jadi ketika orang menertawakan primbon,
sebenarnya mereka sedang menertawakan nenek moyang dari machine learning.
2. Mengapa Tidak Semua Pengetahuan Ditulis
Modern sering lupa satu hal penting:
knowledge ≠ documentation.
Ada pengetahuan yang justru rusak ketika dipublikasikan.
Karena begitu ditulis:
- ia kehilangan konteks,
- kehilangan penjaga,
- dan jatuh ke tangan orang yang tidak membutuhkannya.
Tidak semua yang benar perlu diumumkan.
Tidak semua yang dalam perlu diterangkan.
Al-Qur’an sendiri mengingatkan:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isra: 36)
Ada pengetahuan yang hanya aman di hati yang matang.
3. Primbon ≠ Mistis, tapi Lossy Model
Primbon sering ditertawakan karena tidak presisi.
Padahal ia memang tidak pernah mengklaim presisi.
Primbon adalah lossy model.
Ia sengaja kehilangan detail,
agar yang tersisa cukup untuk bertahan hidup.
Ia bukan alat ramalan masa depan,
tapi panduan agar manusia:
- tidak melawan alam,
- tidak memaksa waktu,
- dan tidak sombong pada keadaan.
Akurat bukan karena detailnya,
tapi karena cukup tepat untuk menjaga keseimbangan.
4. Meniteni vs Logging
Logging mencatat semuanya.
Meniteni hanya mencatat yang beresonansi.
Yang satu penuh angka.
Yang satu penuh rasa.
Yang satu sibuk menyimpan.
Yang satu sibuk menyaring.
Meniteni adalah feature selection alami.
Ia tahu bahwa terlalu banyak data
justru membuat manusia kehilangan arah.
5. Ingatan yang Tidak Ditulis sebagai Security Layer
Yang tidak ditulis:
- tidak bisa di-scrape,
- tidak bisa dijiplak,
- tidak bisa dipamerkan.
Ini bukan kelemahan.
Ini lapisan keamanan.
Sejak ratusan tahun lalu,
budaya sudah mengenal anti-plagiarisme
tanpa perlu hukum dan watermark.
Yang bisa membaca, hanyalah yang mengalami.
6. Pratandha sebagai Signal Lemah
Pratandha bukan alarm.
Ia bukan teriakan.
Ia bisikan kecil:
- rasa tidak enak,
- mimpi yang aneh,
- suasana yang berbeda dari biasanya.
Yang selamat sering bukan yang paling pintar,
tapi yang cukup peka untuk berhenti.
“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.”
(QS. At-Talaq: 2)
7. Wanci dan Ketepatan Konteks
Dalam sistem ini,
benar di waktu yang salah
tetap dianggap salah.
Primbon tidak mengejar kebenaran absolut.
Ia mengejar ketepatan konteks.
Karena hidup bukan soal benar-salah,
tapi soal kapan dan bagaimana.
8. Owah-owahan Alam = Variance yang Tidak Bisa Dikontrol
Alam berubah.
Dan itu bukan error.
Sistem Jawa tidak memaksa stabilitas.
Ia adaptif.
Ia tahu bahwa memaksa konsistensi
di dunia yang selalu berubah
adalah resep kelelahan.
9. Pawukon sebagai Model Kalender Kontekstual
Pawukon bukan tanggal.
Ia keadaan.
Bukan “hari ke-berapa”,
tapi “sedang fase apa”.
Lebih dekat ke state machine
daripada kalender dinding.
10. Kenapa Metodologi Modern Baru “Menemukan” Ini
Hari ini mereka menyebutnya:
- feature engineering,
- anomaly detection,
- heuristic model.
Orang Jawa dulu menyebutnya sederhana:
ngrasakke.
Bukan karena bodoh,
tapi karena mereka hidup cukup dekat
dengan realitas.
11. Enkripsi Kesadaran: Siapa yang Bisa Membaca
Bukan yang sekolahnya tinggi.
Bukan yang bicaranya rumit.
Tapi yang:
- hidup cukup lama,
- jatuh cukup dalam,
- dan mau diam cukup lama.
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
(QS. Ar-Rum: 21)
12. Kenapa Ini Tidak Perlu Dipahami Semua Orang
Karena ini bukan ilmu publik.
Ini ilmu bertahan.
Yang tidak butuh,
tidak akan tertarik.
Dan itu sehat.
Pesan untuk Pembaca
Jika tulisan ini terasa dekat,
mungkin karena kamu juga menyimpan sesuatu
yang tidak pernah kamu tulis.
Jangan buru-buru menjelaskannya.
Jangan tergesa membagikannya.
Beberapa hal cukup disimpan,
supaya tidak rusak oleh ejekan
dan tidak melukai diri sendiri.
Tidak semua cahaya perlu lampu.
Sebagian cukup menjadi api kecil yang menjaga hidup tetap hangat.
✍️ Ditulis sebagai bagian dari rangkaian INTI – Interkoneksi Narasi Teknologi Intelektual.
0068 – Enkripsi Kesadaran: Titen, Primbon, dan Ingatan yang Tidak Ditulis