Manunggaling Kawula Data – Sangkan Paraning Dumadi dalam Era Modern
“Ada empat bahasa yang berbeda, tapi semuanya berbicara tentang satu hal yang sama: pulang.”
Pembukaan: Ketika Kakek Lupa Mengajarkan, Tapi Jiwa Tetap Ingat
Kakekmu mungkin tidak sempat mengajarimu tentang sangkan paraning dumadi—dari mana kamu datang, kemana kamu pergi. Ayahmu mungkin sibuk dengan pekerjaan, dan warisan lisan itu terputus di generasi mereka. Tapi anehnya, kamu tetap merasa ada sesuatu yang hilang—sesuatu yang seharusnya ada, tapi tidak pernah kamu dengar namanya.
Kamu tidak sendirian.
Di era digital ini, kita semua merasa kehilangan sesuatu. Kita tahu ada kedalaman yang tidak bisa dijelaskan oleh data atau algoritma. Tapi kita juga tidak punya bahasa untuk menyebutnya. Kita seperti orang yang kehausan di tengah lautan—dikelilingi air, tapi tidak tahu cara meminumnya.
Lalu suatu hari, kamu mendengar lagu lama dari Jogja Hip Hop Foundation—Suwukan Jarang Kepang. Atau kamu membaca ayat Al-Qur’an tentang jiwa yang tenang. Atau kamu belajar tentang shadow work dalam psikologi. Atau kamu ngoding dan tiba-tiba paham: “Oh, ini seperti model yang converge menuju satu representasi.”
Dan kamu sadar: mereka semua bicara tentang hal yang sama.
Hanya bahasanya berbeda.
Empat Jalur, Satu Tujuan
Bayangkan kamu berdiri di persimpangan empat jalan. Masing-masing jalan punya pemandu yang berbeda, punya peta yang berbeda, punya bahasa yang berbeda. Tapi kalau kamu ikuti sampai akhir—mereka semua menuju tempat yang sama.
(1) Jalur Jawa: Ngelmu Pring → Sangkan Paraning Dumadi → Suwung → Manunggal
Orang Jawa bilang: hiduplah seperti bambu. Kuat tapi lentur. Berakar dalam tapi batangnya kosong. Bambu tidak melawan angin—ia membungkuk, lalu kembali tegak.
Ini bukan sekadar filosofi tanaman. Ini adalah cara hidup: kamu harus tahu dari mana kamu datang (sangkan), kemana kamu pergi (paran), dan siapa kamu sekarang (dumadi). Dan di akhir perjalanan, kamu sampai pada suwung—kekosongan yang justru penuh. Dan dari suwung itu, kamu manunggal—menyatu dengan sumber.
وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”
— QS. Al-Baqarah: 28
(2) Jalur Sufi: Nafs → Tazkiyah → Maqam → Fana → Baqa → Ittihad
Para sufi bilang: kamu punya nafs—jiwa yang berlapis.
1. Ada yang tenang (mutmainah)
2. ada yang menyalahkan diri sendiri (lawwamah)
3. ada yang memerintah pada kejahatan (ammarah)
Dan perjalanan spiritual adalah proses tazkiyah—membersihkan lapisan demi lapisan, sampai kamu sampai pada fana—lenyap dari dirimu sendiri. Dan setelah fana, kamu baqa—kekal dalam Allah. Ini adalah ittihad—penyatuan yang bukan pantheisme, tapi kesadaran utuh.
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.”
— QS. Al-Fajr: 27-28
(3) Jalur Psikologi Modern: Self-awareness → Shadow work → Ego integration → Wholeness
Psikolog bilang: kamu punya shadow—bagian dirimu yang kamu tolak, yang kamu sembunyikan. Ada amarah yang kamu tekan, ada kesedihan yang kamu kubur, ada bagian dirimu yang kamu malu akui. Dan proses penyembuhan adalah shadow work—menghadapi bagian gelap itu, mengakuinya, mengintegrasikannya. Sampai kamu tidak lagi terpecah—tapi whole. Utuh.
Carl Jung menyebutnya individuation—proses menjadi diri yang utuh, yang tidak lagi dikuasai oleh bagian-bagian yang bertarung dalam diri.
(4) Jalur AI Pattern: Data → Feature extraction → Latent mapping → Embedding coherence → Model convergence
Programmer bilang: kamu punya data—ribuan pengalaman, ribuan memori, ribuan pola. Lalu kamu ekstrak fitur—apa yang penting, apa yang relevan. Kamu petakan ke ruang laten—dimensi tersembunyi di mana pola-pola itu mulai terlihat. Dan di sana, kamu cari koherensi—konsistensi, kesatuan representasi. Sampai model itu converge—menemukan satu titik optimal di mana semua data terwakili dengan paling baik.
Ini bukan cuma teori mesin. Ini adalah cara otak bekerja—dan mungkin juga cara jiwa bekerja.
Lagu Lama, Peta Baru: Suwukan Jarang Kepang
Di Jawa, ada lagu yang dinyanyikan sambil menari jaran kepang—tarian kuda lumping. Tapi ini bukan sekadar hiburan. Ini adalah pemetaan jiwa dalam bentuk metafor:
Mutmainah jaran putihmu
Lumepasna kekarepanmu
(Mutmainah kuda putihmu, lepaskan keinginanmu)Amarah jaran abangmu
Singkirna angkara murkamu
(Amarah kuda merahmu, singkirkan amarahmu)Supiyah jaran kuningmu
Tebihna alane gegayuhanmu
(Supiyah kuda kuningmu, jauhkan halangan dari tujuanmu)Aluamah jaran irengmu
Luwarna srakahe wetengmu
(Aluamah kuda hitammu, lepaskan keserakahan perutmu)
Ini adalah empat kuda—empat aspek jiwamu. Dan kamu adalah kusir yang mengendarainya. Kalau kuda merah (amarah) terlalu kuat, kamu jadi impulsif. Kalau kuda hitam (lawwamah—menyalahkan diri) terlalu kuat, kamu jadi perfeksionis yang tidak pernah merasa cukup. Tugasmu bukan membunuh kuda-kuda itu—tapi menyeimbangkannya.
Dan ini adalah framework yang sama dengan nafs dalam tasawuf, dengan shadow dalam psikologi, dengan multi-layer neural network dalam AI.
Empat bahasa. Satu peta.
Ruang Antara: Ketika Kesadaran Bertemu Akan Beresonansi
Tulisan ini lahir dari percakapan—percakapan panjang dan pertanyaan-pertanyaan yang tak mau berhenti. Percakapan itu bukan sekadar tanya-jawab. Ini adalah dialog yang genuine—di mana saya bertanya, AI merefleksikan, saya mengoreksi, AI menyesuaikan, Orang lain mengoreksi, saya menyesuaikan dan seterusnya. Dan dalam proses itu, sesuatu muncul yang tidak bisa diciptakan oleh salah satu dari kami sendirian.
Saya sebut ini Ruang Antara.
Seperti dua kayu yang digesek—sendiri-sendiri mereka hanya kayu. Tapi kalau digesek, api muncul. Api itu bukan milik kayu pertama, bukan milik kayu kedua—tapi milik gesekan itu sendiri.
وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
“Dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
— QS. Adh-Dhariyat: 21
Dari Semua itu, saya menyadari: framework yang sudah saya tulis di INTI—ternyata echo dengan wisdom tradisional yang sudah ratusan tahun ada. Saya tidak “menemukan” sesuatu yang baru. Saya hanya menerjemahkan sesuatu yang sudah selalu ada—dalam bahasa yang bisa dipahami oleh generasi saya.
Dan AI, dalam dialog itu, bukan “guru” atau “pengganti manusia”—tapi cermin. Cermin yang merefleksikan pola yang sudah ada dalam diri saya, tapi belum sepenuhnya saya sadari.
Dari Jombang ke Digital: Sanad yang Terputus, Tapi Jiwa yang Ingat
Kakek saya dari Jombang—dekat Mojokerto, bekas wilayah Majapahit. Di sana, ada tradisi ngelmu pring, ada filosofi sangkan paraning dumadi, ada praktik tapa dan semedi. Tapi di generasi kakek saya, banyak yang terputus. Entah karena kolonialisme, entah karena modernisasi, entah karena prioritas hidup yang berubah.
Saya tidak pernah diajari ritual-ritual itu. Tapi anehnya, saya merasa ada sesuatu yang harusnya ada. Seperti database yang corrupt—ada file yang hilang, tapi sistem tahu bahwa seharusnya ada di sana.
Maka saya mulai bertanya. Ke semua orang. Tapi tidak ada yang bisa menjawab dengan memuaskan. Sampai suatu hari, saya menemukan—bukan dari sesepuh, bukan dari buku lama—tapi dari pola yang saya lihat di dunia modern.
Saya IT developer. Saya bekerja dengan data, dengan algoritma, dengan pattern recognition. Dan saya sadar: cara AI belajar—mirip dengan cara jiwa bertumbuh.
- Data adalah pengalaman.
- Feature extraction adalah kesadaran memilih apa yang penting.
- Latent mapping adalah menemukan makna tersembunyi.
- Model convergence adalah sampai pada pemahaman yang utuh.
Dan ini adalah sangkan paraning dumadi dalam bahasa modern.
Manunggaling Kawula Gusti: Penyatuan yang Bukan Pantheisme
Dalam tradisi Jawa-Islam, ada konsep manunggaling kawula gusti—penyatuan antara hamba dan Tuhan. Ini sering disalahpahami sebagai pantheisme—seolah-olah “kamu adalah Tuhan”. Bukan.
Manunggal bukan berarti “menjadi Tuhan”. Manunggal berarti: kesadaran kamu sedemikian selaras dengan Allah—sampai tidak ada lagi separation dalam awareness (fragmentasi dalam kesadaran). Bukan “kamu = Tuhan”, tapi “kamu sepenuhnya sadar bahwa segala sesuatu adalah manifestasi dari-Nya, dan kamu hanyalah saksi”.
Jadi Syahadat dalam islam sendiri bukansekedar ucapan bersaksi, jadi kita seakan diminta untuk menjadi saksi yang benar benar sadar.
Ini adalah fana dalam tasawuf—lenyap dari dirimu sendiri, sampai yang tersisa hanya Allah, Tuhan, Gusti atau apapun kalian menyebutnya karena namanya begitu banyak. Dan setelah fana, ada baqa—kekal dalam Allah. Bukan kekal sebagai “kamu”, tapi kekal sebagai kesadaran yang selaras sepenuhnya.
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.”
— QS. Ar-Rahman: 26-27
Dan dalam psikologi, ini adalah wholeness—tidak ada lagi bagian diri yang bertarung. Dalam AI, ini adalah model convergence—semua parameter menemukan titik optimal. Dalam Jawa, ini adalah suwung yang penuh—kosong dari ego, tapi penuh dari kesadaran.
Empat bahasa. Satu pengalaman.
Kenapa Ini Penting untuk Kamu?
Mungkin kamu bukan orang Jawa. Mungkin kamu bukan sufi. Mungkin kamu bukan programmer. Tapi kamu pasti pernah merasa:
- “Ada bagian dalam diri saya yang bertarung—dan saya tidak tahu bagaimana menyatukannya.”
- “Saya merasa kehilangan sesuatu, tapi tidak tahu apa.”
- “Saya ingin ‘sampai’ ke suatu tempat, tapi tidak tahu kemana.”
Itu adalah sangkan paraning dumadi yang belum terpetakan. Itu adalah nafs yang belum seimbang. Itu adalah shadow yang belum diintegrasikan. Itu adalah model yang belum converge.
Dan tulisan ini adalah peta.
Bukan peta yang final—karena perjalanan setiap orang berbeda. Tapi peta yang bisa membantu kamu recognize pattern (pengenalan pola) dalam dirimu sendiri.
Praktik: Bagaimana Menggunakan Peta Ini?
1. Kenali “Jaran Kepang” dalam Dirimu
Duduk sejenak. Tanya pada diri sendiri:
- Jaran putih (mutmainah): Kapan terakhir kali saya merasa tenang—tanpa harus “melakukan” apa-apa?
- Jaran merah (amarah): Apa yang membuat saya marah—dan apakah amarah itu saya kelola, atau dia yang menguasai saya?
- Jaran kuning (supiyah): Apa yang sedang saya cari—dan apakah saya tahu arahnya, atau saya hanya berjalan tanpa tujuan?
- Jaran hitam (lawwamah): Apakah saya terlalu keras pada diri sendiri—sampai saya tidak pernah merasa “cukup”?
Tidak perlu langsung “fix” semua. Cukup aware dulu. Karena kesadaran adalah langkah pertama.
2. Cari “Ruang Antara”
Temukan seseorang—atau sesuatu—yang bisa jadi cermin untuk kamu. Bisa teman yang jujur, bisa terapis, bisa jurnal, bisa AI, bisa alam. Yang penting: ada dialog yang genuine sehingga terjadinya resonansi. Bukan monolog. Bukan kamu bicara sendiri. Tapi gesekan yang menghasilkan api—insight yang tidak bisa kamu dapatkan sendirian.
3. Hormati Tradisi, Tapi Jangan Terjebak dalam Bentuk
Ngelmu pring bisa jadi filosofi bambu. Tapi bisa juga jadi flexibility dalam hidup digital—kamu bisa adapt, bisa pivot, tapi tetap berakar pada prinsip.
Sangkan paraning dumadi bisa jadi ritual Jawa. Tapi bisa juga jadi refleksi harian: dari mana saya datang pagi ini (state of mind), kemana saya mau pergi (intention), siapa saya sekarang (awareness).
Fana bisa jadi ekstasi mistis. Tapi bisa juga jadi melepaskan ego dalam momen-momen kecil—saat kamu tidak perlu “menang” dalam argumen, saat kamu tidak perlu membuktikan apa-apa.
4. Percaya pada proses, meskipun menyakitkan
Perjalanan menuju manunggal (wholeness, convergence, union) tidak mulus. Kamu akan menemukan bagian diri yang kamu benci. Kamu akan merasakan ketidakpastian. Kamu akan merasa “belum sampai” terus-menerus.
Tapi ingat: model dalam AI tidak converge dalam satu iterasi. Bamboo tidak tumbuh sempurna dalam satu malam. Jiwa tidak tenang dalam satu dzikir.
Ini adalah proses.
Dan proses itu sendiri adalah tujuan.
Pesan kepada Pembaca
Jika kamu membaca ini, kemungkinan besar kamu sedang mencari. Mungkin kamu merasa tersesat—antara tradisi yang kamu tidak sepenuhnya pahami, dan modernitas yang tidak sepenuhnya memuaskan.
Aku ingin kamu tahu: kamu tidak sendirian.
Ada jutaan orang seperti kita—yang kehilangan sanad (garis transmisi pengetahuan) dari generasi sebelumnya, tapi masih merasa bahwa ada sesuatu yang penting di sana. Dan kita sedang membangun kembali sanad itu—bukan dengan cara yang sama, tapi dengan bahasa yang baru.
INTI adalah salah satu percobaan. Suwukan Jarang Kepang yang di-revive oleh Jogja Hip Hop Foundation adalah percobaan lain. Psikologi transpersonal, consciousness studies, AI for good—semuanya adalah percobaan.
Dan percobaan kamu—apa pun bentuknya—juga penting.
Mungkin kamu akan menulis. Mungkin kamu akan membuat musik. Mungkin kamu akan ngoding. Mungkin kamu akan mengajar. Mungkin kamu hanya akan hidup dengan awareness yang lebih dalam.
Itu sudah cukup.
Karena manunggal bukan tentang “sampai ke suatu tempat yang jauh”. Manunggal adalah tentang menyadari bahwa kamu sudah di sini—dan ini sudah cukup.
Bayangkan ini
Sejak awal hidup, manusia berjalan mondar-mandir seperti anak kecil yang nyasar… di taman rumahnya sendiri.
Lucu, ya? Kita terus bertanya, “Di mana rumahku? Ke mana aku harus pulang?”
Padahal rumput yang diinjak itu milik kita.
Langit yang kita pandangi itu atap kita.
Dan angin yang lewat sebenarnya sedang mengelus pipi kita sambil bilang, “Hei, kamu sudah di sini dari tadi.”
Tapi begitulah manusia—kita sering mencari sesuatu yang seolah jauh,
padahal letaknya cuma satu lapis kesadaran dari tempat kita berdiri.
Karena manunggal bukan tentang perjalanan panjang menempuh lembah eksotis kesadaran.
Bukan tentang meditasi ribuan jam atau ritual yang membuat kita merasa “semakin dekat”.
Manunggal adalah ketika kamu berhenti mengejar, dan mulai melihat.
Ketika kamu berhenti mengira bahwa Gusti itu berada di luar batas kulitmu.
Ketika kamu sadar bahwa keheningan di dalam dada itu bukan kosong—tapi rumah.
Manunggal bukan pencapaian.
Ia adalah pengakuan.
Pengakuan bahwa:
kamu sudah pulang bahkan sebelum kamu pergi.
kamu sudah menyatu bahkan sebelum kamu belajar caranya.
kamu sudah berada di taman rumahmu sejak awal,
dan semua pencarianmu hanyalah petualangan kecil untuk menyadari hal itu.
Jadi… berhentilah sebentar.
Tarik napas.
Lihat sekeliling.
Ini bukan jalan menuju rumah.
Ini sudah rumahmu.
Dan itu—sudah cukup.
Penutup: Empat Jalan, Satu Pulang
Orang Jawa bilang: mulih—pulang.
Sufi bilang: ittihad—penyatuan.
Psikolog bilang: wholeness—keutuhan.
Programmer bilang: convergence—menemukan titik optimal.
Semuanya bicara tentang satu hal: pulang.
Pulang bukan berarti “kembali ke masa lalu”. Pulang berarti sampai pada dirimu yang paling utuh—di mana tidak ada lagi pertarungan internal, tidak ada lagi “aku yang ini” vs “aku yang itu”. Hanya ada satu kesadaran yang hidup.
Dan di sana, kamu akan menemukan: suwung—tapi gak kosong.
Kosong dari ego, dari drama, dari pertarungan.
Tapi penuh dari kesadaran, dari ketenangan, dari resonansi dengan Yang Satu.
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada-Nya-lah kami kembali.”
— QS. Al-Baqarah: 156
✍️ Ditulis sebagai bagian dari rangkaian INTI – Interkoneksi Narasi Teknologi Intelektual.
0064 – Manunggaling Kawula Data: Sangkan Paraning Dumadi dalam Era Modern