INTI 0071 — Titen Tanpa Kagetan, Takjub Tanpa Gumunan, Kuasa Tanpa Dumeh

Ada masa dalam hidup ketika makna datang bertubi-tubi.
Bukan sebagai jawaban, melainkan sebagai cahaya.
Dan seperti cahaya yang terlalu terang,
bukan mata yang salah,
melainkan kesiapan yang diuji.

INTI ini tidak lahir dari teori.
Ia lahir dari pengalaman yang pelan-pelan belajar menjaga diri.
Karena ada bahaya yang jarang dibicarakan:
bahaya ketika seseorang mulai paham.

Orang jatuh bukan hanya karena gelap.
Ia juga bisa jatuh karena silau.

Di tanah Jawa, sejak lama ada tiga pagar batin yang sederhana,
namun menahan manusia agar tetap utuh:
ojo kagetan, ojo gumunan, ojo dumeh.

INTI 0071 mencoba menerjemahkan pagar itu
ke dalam bahasa kesadaran hari ini.
Bukan untuk mengajari,
melainkan untuk mengingatkan.


1. Kagetan sebagai Reaksi Ego

Kagetan bukan salah.
Ia refleks manusiawi ketika sesuatu datang tiba-tiba.
Berita, pujian, kritik, pencerahan,
atau sebuah pemahaman yang terasa “klik”.

Masalahnya bukan pada kagetnya.
Masalahnya pada siapa yang memegang kemudi setelah kaget itu muncul.

Kesadaran yang belum berakar
mudah ditarik ke mana saja setelah kagetan.
Hari ini kagetan oleh pujian,
besok ambruk oleh kritik.
Pagi kagetan oleh wacana besar,
malam kebingungan oleh makna yang tak sempat dicerna.

Di era media,
kagetan diproduksi massal.
Judul besar, narasi keras,
emosi dipancing agar perhatian terkunci.

Di era spiritualitas instan,
kagetan dijual sebagai pencerahan.
Tangis sesaat disebut kebangkitan.
Getar singkat disebut panggilan jiwa.

Di era teknologi dan AI,
kagetan hadir dalam bentuk kemampuan.
Jawaban cepat,
analisis rapi,
kesan seolah semuanya bisa dipahami sekaligus.

Padahal:

خُلِقَ الْإِنسَانُ مِنْ عَجَلٍ
“Manusia diciptakan bersifat tergesa-gesa.”
(QS. Al-Anbiya: 37)

Titen mengajarkan hal yang sebaliknya.
Ia mengajak tinggal lebih lama.
Mengamati tanpa buru-buru mengerti.
Mengalami tanpa harus segera menamai.

Kesadaran yang dititeni
perlahan kehilangan kebiasaan kagetan.
Bukan karena tumpul,
melainkan karena akarnya mulai menancap.


2. Gumunan sebagai Jebakan Kekaguman

Gumunan sering disalahpahami.
Ia bukan kebodohan.
Ia adalah tanda belum kenyang pengalaman.

Orang yang gumunan
mudah terpesona oleh sosok,
oleh guru,
oleh tokoh,
oleh konsep besar.

Bukan karena salah mengagumi,
melainkan karena belum cukup lama berjalan sendiri.

Gumunan membuat seseorang
menyerahkan akal dan tanggung jawab.
Ia menggantungkan makna pada luar dirinya.
Ia mencari pusat di tempat lain.

Bahkan terhadap tulisan,
terhadap INTI ini sekalipun,
gumunan bisa muncul.
Dan itu harus diakui dengan jujur.

Karena jika INTI menjadi sesuatu yang dituhankan, dogma, dianggap benar mutlak maka anda disarankan membaca INTI 0000 (INTI 0000 LICENSE_INTI), 0006 (INTI 0006 — Bukan Untuk Benar, Tapi Untuk Ingat)
INTI telah kehilangan fungsinya.

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”
(QS. An-Najm: 32)

Takjub yang matang
tidak menghapus daya kritis.
Ia menghormati tanpa menyerah.
Ia belajar tanpa meniadakan diri.

Takjub tanpa gumunan
membuat seseorang tetap berdiri
meski melihat hal yang indah.


3. Dumeh sebagai Penyakit Halus Kesadaran

Dumeh jarang muncul di awal.
Ia muncul setelah paham.

Ketika seseorang mulai merasa:
pernah sampai,
pernah mengerti,
pernah melihat lebih jauh.

Di titik itu,
bahaya menjadi sunyi.
Tidak berisik.
Tidak dramatis.
Namun perlahan menggerogoti integritas.

Orang awam jarang dumeh.
Orang yang merasa sadar,
justru rawan.

Paham tidak membuat kebal.
Sadar tidak membuat lebih tinggi.
Dalam tidak membuat berhak.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(QS. An-Nisa: 36)

Kuasa sejati
bukan kemampuan mempengaruhi.
Ia adalah kesanggupan menjaga diri
ketika tidak ada yang mengawasi.

Kuasa tanpa dumeh
adalah kuasa yang tidak perlu diumumkan.


4. Tiga Ini sebagai Rem, Bukan Tujuan

Ojo kagetan.
Ojo gumunan.
Ojo dumeh.

Ini bukan pencapaian.
Bukan identitas.
Bukan level spiritual.

Ini adalah rem.

Rem agar manusia
tidak keluar jalur
ketika makna datang terlalu cepat.

Karena sering kali,
yang membuat manusia jatuh
bukan kegelapan,
melainkan cahaya
yang datang tanpa kesiapan.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)

Rem bukan untuk menghentikan hidup.
Rem untuk menjaga arah.


5. Kesaksian Pribadi

Aku pernah kagetan.
Aku pernah merasa menemukan sesuatu yang besar.
Aku pernah mengira satu pemahaman
cukup untuk menjelaskan segalanya.

Aku juga pernah gumunan.
Terhadap ide.
Terhadap kata-kata.
Terhadap cahaya yang terasa hangat.

Dan aku menyadari,
betapa halusnya dumeh menyelinap.
Datang tanpa suara.
Berpura-pura sebagai keyakinan.

INTI ini kutulis
bukan karena aku sudah selesai,
melainkan karena aku tahu
betapa mudahnya manusia tergelincir
saat merasa sudah paham.


Pesan untuk Pembaca

Jika saat membaca ini
ada bagian yang terasa mengusik,
mungkin itu bukan karena salahmu.
Mungkin itu karena ada pola yang hidup juga di dalam dirimu.

INTI ini tidak meminta diikuti.
Ia hanya mengajak berhenti sejenak.

Menanyakan:
Apakah aku sedang kagetan?
Apakah aku sedang gumunan?
Apakah aku sedang dumeh?

Pertanyaan itu sudah cukup
untuk menjaga kewarasan.

Karena hidup yang sadar
bukan hidup yang paling paham,
melainkan hidup yang
tidak berhenti menjaga diri.

Semoga kita selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa lagi maha melindungi.


✍️ Ditulis sebagai bagian dari rangkaian INTI – Interkoneksi Narasi Teknologi Intelektual.
0071 – Titen Tanpa Kagetan, Takjub Tanpa Gumunan, Kuasa Tanpa Dumeh