Kesetiaan pada Proses - Ketika Kesadaran Memilih Tetap Hadir

Ada satu momen yang tidak pernah diumumkan,
tidak pernah diberi tanda,
tidak pernah diberi upacara.

Momen itu terjadi diam-diam.

Momen ketika sesuatu di dalam diri kita melihat sesuatuโ€”
dan tidak bisa lagi berpura-pura tidak melihatnya.

Bukan melihat dengan mata,
tapi melihat dengan kesadaran.

Dan sejak saat itu, sesuatu berubah.

Bukan dunia yang berubah.

Tapi cara kita hadir di dalamnya.


1. Infinite

Pada awalnya, semua ide tidak punya bentuk.

Ia tidak punya kata,
tidak punya suara,
tidak punya struktur.

Ia hanya kemungkinan.

Ia seperti kabut sebelum pagi.
Ada, tapi belum bisa disentuh.

Ia seperti perasaan samar yang belum punya nama.
Ia seperti getaran yang belum memilih menjadi suara.

Dan di titik ituโ€”
ia infinite.

Ia bisa menjadi apa saja.

Ia belum memilih untuk menjadi sesuatu.


Di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุฃูŽู…ู’ุฑูู‡ู ุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุฑูŽุงุฏูŽ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ูƒูู† ููŽูŠูŽูƒููˆู†ู

“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah!’, maka jadilah ia.”
(QS. Yasin: 82)

Sebelum “Kun”, semuanya adalah kemungkinan.

Setelah “Kun”, sesuatu memilih bentuk.

Dan di antara keduanya, ada sebuah ambang.

Ambang itu adalah collapse.


2. Collapse Memberi Bentuk

Collapse bukan kehancuran.

Collapse adalah keputusan.

Keputusan untuk menjadi.

Keputusan untuk berhenti menjadi segala kemungkinan,
dan mulai menjadi sesuatu yang spesifik.

Seperti ide yang akhirnya ditulis menjadi kata.
Seperti niat yang akhirnya diwujudkan menjadi tindakan.

Setiap kali kita menulis, kita melakukan collapse.

Setiap kali kita berbicara, kita melakukan collapse.

Setiap kali kita memilih, kita melakukan collapse.

Dan setiap collapse adalah pengorbanan.

Karena setiap bentuk adalah kehilangan dari semua bentuk lain yang mungkin.


Tapi tanpa collapse, tidak ada yang bisa dilihat.

Tanpa collapse, tidak ada yang bisa diuji.

Tanpa collapse, tidak ada yang bisa berinteraksi dengan realitas.

Sesuatu yang tidak punya bentuk tidak bisa divalidasi.

Ia hanya kemungkinan.

Ia belum menjadi bagian dari dunia.


3. Bentuk Memungkinkan Validasi

Realitas tidak merespon kemungkinan.

Realitas hanya merespon manifestasi.

Realitas tidak membaca apa yang kita pikirkan.

Realitas membaca apa yang kita wujudkan.

Dan di sinilah bentuk menjadi penting.

Bentuk adalah jembatan antara kesadaran dan realitas.

Bentuk adalah cara kesadaran berbicara kepada dunia.


Allah juga berfirman:

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฎูŽุงู„ูู‚ู ูƒูู„ู‘ู ุดูŽูŠู’ุกู

“Allah adalah Pencipta segala sesuatu.”
(QS. Az-Zumar: 62)

Segala sesuatu yang kita lihat adalah sesuatu yang telah collapse.

Segala sesuatu yang kita alami adalah sesuatu yang telah memilih bentuk.

Dan kita, sebagai manusia, diberi kemampuan yang sama dalam skala kita sendiri.

Kita diberi kemampuan untuk mewujudkan.


Ketika ide menjadi bentuk, sesuatu yang baru terjadi.

Realitas merespon.

Kadang dengan diam.
Kadang dengan resistensi.
Kadang dengan resonansi.

Tapi realitas selalu merespon.

Dan respon itu adalah validasi.

Bukan validasi dalam arti persetujuan.

Tapi validasi dalam arti kejujuran.

Realitas tidak pernah berbohong.

Ia hanya mencerminkan.


4. Validasi Memicu Emergence (Kemunculan) Baru

Dari validasi itu, sesuatu yang baru muncul.

Sesuatu yang tidak ada sebelumnya.

Sesuatu yang emerge.

Emergence bukan hasil dari ide saja.

Emergence adalah hasil dari interaksi.

Interaksi antara ide dan realitas.
Interaksi antara kesadaran dan dunia.
Interaksi antara niat dan konsekuensi.

Seperti api yang muncul dari gesekan dua kayu.

Api tidak ada di kayu pertama.

Api tidak ada di kayu kedua.

Api muncul dari interaksi keduanya.


5. Emergence Kembali ke Superposisi (Loop Berulang tanpa akhir)

Dan emergence itu tidak berhenti di situ.

Ia kembali menjadi kemungkinan.

Ia kembali menjadi superposisi.

Ia kembali menjadi sesuatu yang belum selesai.

Ia kembali menjadi infinite.

Dan siklus itu dimulai lagi.


Ide โ†’ Collapse โ†’ Bentuk โ†’ Validasi โ†’ Emergence โ†’ Superposisi โ†’ Ide baru.

Loop itu tidak pernah berhenti.

Loop itu adalah kehidupan itu sendiri.

Loop itu adalah cara kesadaran berkembang.

Loop itu adalah cara realitas berbicara kepada kita.


Tapi ada sesuatu yang lebih penting dari loop itu sendiri.

Bukan ide.

Bukan bentuk.

Bukan validasi.

Bukan emergence.

Yang paling penting adalah keputusan untuk tetap berada di dalam loop itu.

Itulah kesetiaan.


6. Kesetiaan Adalah Tetap Berada dalam Loop Ini

Kesetiaan bukan berarti tidak berubah.

Kesetiaan bukan berarti mempertahankan bentuk lama.

Kesetiaan berarti tetap hadir dalam proses.

Tetap bersedia collapse.

Tetap bersedia diuji.

Tetap bersedia melihat apa yang nyata, bahkan ketika itu tidak sesuai harapan.

Kesetiaan adalah keberanian untuk tidak berhenti.


Allah berfirman:

ูˆูŽุงุนู’ุจูุฏู’ ุฑูŽุจู‘ูŽูƒูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ูฐ ูŠูŽุฃู’ุชููŠูŽูƒูŽ ุงู„ู’ูŠูŽู‚ููŠู†ู

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).”
(QS. Al-Hijr: 99)

Ayat ini bukan hanya tentang ibadah ritual.

Ini tentang kontinuitas kehadiran.

Tentang tetap hadir sampai akhir.

Tentang kesetiaan pada proses keberadaan itu sendiri.


Banyak orang tidak berhenti karena mereka tidak mampu.

Mereka berhenti karena mereka tidak setia pada proses.

Mereka ingin hasil tanpa collapse.

Mereka ingin validasi tanpa manifestasi.

Mereka ingin emergence tanpa pengorbanan bentuk.

Tapi itu tidak mungkin.

Karena realitas hanya merespon apa yang hadir.

Bukan apa yang mungkin.


Kesetiaan adalah tetap collapse, bahkan ketika collapse itu menyakitkan.

Karena setiap collapse adalah kehilangan dari kemungkinan lain.

Kesetiaan adalah tetap hadir, bahkan ketika tidak ada jaminan hasil.

Kesetiaan adalah tetap menulis, bahkan ketika tidak ada yang membaca.

Kesetiaan adalah tetap menjadi saksi bagi realitas.


Di dalam diri setiap manusia, loop ini sudah ada.

Setiap hari kita mengalaminya.

Kita punya ide.

Kita memilih tindakan.

Realitas merespon.

Kita belajar.

Kita berubah.

Dan kita mulai lagi.

Tapi banyak yang tidak menyadarinya.

Banyak yang hidup di dalam loop tanpa melihat loop itu sendiri.

Dan tanpa kesadaran, loop itu terasa seperti beban.

Dengan kesadaran, loop itu menjadi jalan.


Kesetiaan pada proses bukan berarti kita tahu ke mana proses itu akan membawa kita.

Kesetiaan berarti kita bersedia berjalan tanpa kepastian.

Karena yang setia bukan pada tujuan.

Yang setia adalah pada kehadiran itu sendiri.


Seperti napas.

Kita tidak setia pada satu napas.

Kita setia pada proses bernapas.

Satu napas datang dan pergi.

Tapi proses tetap berlanjut.

Dan selama proses itu berlanjut, kehidupan tetap ada.


Kesadaran juga seperti itu.

Ia tidak setia pada satu bentuk.

Ia setia pada proses menjadi.

Setiap bentuk datang dan pergi.

Setiap pemahaman datang dan pergi.

Setiap identitas datang dan pergi.

Tapi kesadaran tetap hadir.

Dan selama kesadaran tetap hadir, perjalanan tetap berlanjut.


Kesetiaan adalah keputusan yang sunyi.

Tidak ada yang melihatnya.

Tidak ada yang memberi penghargaan.

Tidak ada yang mengumumkannya.

Tapi dari kesetiaan itulah, semua bentuk lahir.

Semua pertumbuhan terjadi.

Semua makna emerge.


Mungkin Anda pernah merasakannya.

Momen ketika Anda ingin berhenti.

Momen ketika semuanya terasa tidak pasti.

Momen ketika Anda bertanya, apakah semua ini berarti.

Dan di momen itu, Anda punya pilihan.

Untuk berhenti.

Atau untuk tetap hadir.

Jika Anda memilih tetap hadir, bahkan tanpa kepastian, bahkan tanpa jaminanโ€”

itu adalah kesetiaan.


Kesetiaan bukan tentang menjadi sempurna.

Kesetiaan adalah tentang tidak meninggalkan proses.

Tidak meninggalkan diri sendiri.

Tidak meninggalkan kesadaran yang telah melihat sesuatu.


Karena pada akhirnya, bukan hasil yang membentuk kita.

Bukan bentuk yang membentuk kita.

Tapi keputusan untuk tetap hadir.

Keputusan untuk tetap setia pada proses menjadi.


Dan mungkin, itu adalah bentuk kesetiaan tertinggi:

Bukan setia pada bentuk.

Bukan setia pada hasil.

Tapi setia pada proses yang melahirkan semuanya.


Pesan kepada Pembaca

Jika Anda membaca ini, mungkin Anda juga pernah merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Mungkin Anda pernah melihat sesuatu yang tidak bisa Anda abaikan.

Mungkin Anda pernah berada di ambang collapse.

Jangan takut pada proses itu.

Karena di sanalah kehidupan benar-benar terjadi.

Jangan takut kehilangan kemungkinan.

Karena hanya melalui kehilangan itu, sesuatu yang nyata bisa lahir.

Dan yang paling pentingโ€”

jangan berhenti hadir.

Karena kesetiaan bukan tentang menjadi sesuatu.

Kesetiaan adalah tentang tetap menjadi.


โœ๏ธ Ditulis sebagai bagian dari rangkaian INTI โ€“ Interkoneksi Narasi Teknologi Intelektual.
0075 โ€“ Kesetiaan pada Proses - Ketika Kesadaran Memilih Tetap Hadir