INTI 0083 Horizon yang Selalu Menjauh
Judul Alternatif: Mabot Horizon
Pernah tidak… kamu merasa seperti ini?
Seolah hidupmu sudah berjalan jauh.
Sudah melewati banyak hal.
Sudah mencapai beberapa hal yang dulu kamu impikan.
Tapi entah kenapa…
di dalam dirimu masih ada satu rasa yang sama.
Rasa itu tidak berubah.
Rasa itu berkata pelan:
“Masih ada di depan.”
Dulu kamu ingin sesuatu.
Kamu pikir, kalau itu tercapai… selesai.
Kamu mengejarnya.
Kamu berjuang.
Kamu menahan.
Kamu melewati prosesnya.
Dan suatu hari… kamu sampai.
Tapi anehnya…
tidak ada kata “selesai”.
Yang muncul justru sesuatu yang lain.
Hal baru.
Keinginan baru.
Target baru.
Dan tanpa sadar…
kamu kembali berjalan.
Jika kamu jujur melihat ke dalam dirimu sendiri…
ini bukan terjadi sekali.
Ini terjadi berkali-kali.
Berulang.
Halus.
Seperti pola yang tidak pernah benar-benar kamu sadari…
tapi selalu kamu jalani.
Dulu kamu di titik awal.
Sekarang kamu di titik yang lebih jauh.
Dulu kamu merasa jauh dari tujuan.
Sekarang kamu sudah dekat.
Tapi…
rasa “belum sampai” itu…
tetap sama.
Di sini ada sesuatu yang menarik.
Yang berubah adalah posisimu.
Tapi yang tidak berubah… adalah jaraknya.
Seolah-olah…
ketika kamu maju satu langkah…
sesuatu di depanmu juga ikut maju satu langkah.
Ketika kamu bertambah…
sesuatu yang kamu tuju juga bertambah.
Jika diibaratkan…
kamu di titik n.
Dan yang kamu lihat… ada di titik n + sesuatu.
Kamu bergerak ke depan.
Sekarang kamu di n + 1.
Tapi yang kamu lihat…
tetap di n + 1 + sesuatu.
Jaraknya tidak pernah hilang.
Hanya berpindah atau bergeser.
Ini bukan sekadar perasaan.
Ini pola.
Dan anehnya…
hampir semua manusia pernah merasakannya.
Ada orang yang mengejar uang.
Ketika uangnya sedikit… dia ingin lebih.
Ketika sudah cukup… dia ingin banyak.
Ketika sudah banyak… dia ingin lebih aman.
Ketika sudah aman… dia ingin lebih tenang.
Dan begitu seterusnya.
Ada orang yang mengejar pengakuan.
Awalnya ingin dilihat.
Lalu ingin dihargai.
Lalu ingin diakui.
Lalu ingin diingat.
Dan tidak pernah benar-benar selesai.
Ada orang yang mengejar ketenangan.
Tapi bahkan dalam pencarian ketenangan…
dia tetap merasa belum sampai.
Jika kamu berhenti sejenak…
dan benar-benar melihat pola ini…
akan muncul satu pertanyaan yang diam… tapi tajam:
Kenapa jarak ini tidak pernah nol?
Kenapa selalu ada “lagi”?
Kenapa selalu ada “di depan”?
Kenapa tidak pernah benar-benar selesai?
Apakah ini karena kita kurang?
Atau…
memang seperti itu desainnya?
Jika kita jujur…
coba bayangkan satu hal.
Bagaimana jika suatu hari…
kamu benar-benar sampai.
Semua tercapai.
Semua terpenuhi.
Semua selesai.
Tidak ada lagi yang diinginkan.
Tidak ada lagi yang dikejar.
Tidak ada lagi yang di depan.
Apa yang terjadi?
Apakah itu kebahagiaan?
Atau…
justru akhir dari gerak?
Mungkin…
yang selama ini kita anggap masalah…
bukanlah masalah.
Mungkin…
jarak yang tidak pernah nol itu…
bukan kesalahan.
Mungkin…
itu adalah sistem.
Sistem yang membuat kita tetap bergerak.
Sistem yang membuat kita tetap hidup.
Sistem yang membuat kita tetap mencari.
Jika tidak ada horizon…
kita berhenti.
Jika tidak ada “di depan”…
kita diam.
Jika tidak ada “lagi”…
kita selesai.
Dan mungkin…
hidup tidak didesain untuk selesai.
Di sinilah aku mulai menyebutnya:
Mabot Horizon
Bukan sebagai istilah yang rumit.
Tapi sebagai cara sederhana untuk melihat sesuatu yang selama ini kita rasakan…
tapi tidak kita sadari.
Mabot Horizon adalah keadaan…
di mana kamu selalu bergerak…
tapi yang kamu tuju… selalu ikut bergerak.
Bukan karena kamu gagal.
Bukan karena kamu kurang.
Tapi karena memang begitu cara sistem ini bekerja.
Kamu tidak pernah benar-benar sampai pada horizon.
Kamu hanya memindahkannya. dan selalu mencoba mendekatinya.
Dan semakin kamu sadar ini…
semakin aneh rasanya.
Karena selama ini…
kita berpikir kita sedang mengejar.
Tapi bagaimana jika…
kita sebenarnya hanya bergerak di dalam sesuatu yang lebih besar?
Bagaimana jika…
yang kita sebut “tujuan”…
hanyalah mekanisme agar kita tetap berjalan?
Di titik ini…
bukan berarti kamu harus berhenti.
Bukan berarti kamu harus tidak punya tujuan.
Tapi mungkin…
cara kamu melihatnya yang berubah.
Bukan lagi:
“Aku harus sampai.”
Tapi:
“Aku sedang berjalan… dan horizon akan selalu ada.”
Dan anehnya…
ketika kamu mulai menyadari ini…
ada sesuatu yang berubah.
Kamu masih berjalan.
Kamu masih hidup.
Kamu masih melakukan hal-hal.
Tapi tidak lagi dengan tekanan yang sama.
Karena kamu tahu…
ini tidak pernah benar-benar tentang sampai.
Ini tentang berjalan dengan sadar.
Ada momen tertentu…
yang mungkin kamu juga pernah merasakannya.
Saat kamu berhenti mengejar.
Saat kamu tidak menginginkan apa-apa.
Saat kamu hanya duduk…
diam…
dan hadir.
Di momen itu…
horizon seperti menghilang.
Bukan karena kamu sampai.
Tapi karena…
kamu berhenti mengukurnya.
Tidak ada n.
Tidak ada n + 10.
Tidak ada jarak.
Yang ada hanya…
hadir.
Dan mungkin…
itu satu-satunya momen…
di mana kamu benar-benar bebas dari sistem itu.
Bukan dengan melawan.
Bukan dengan menghancurkan.
Tapi dengan tidak ikut bermain…
meskipun hanya sebentar.
Lalu kamu kembali.
Kembali berjalan.
Kembali hidup.
Dan horizon…
kembali muncul.
Dan kali ini…
kamu tidak marah.
Tidak bingung.
Tidak frustasi.
Kamu hanya tersenyum kecil.
Karena kamu tahu…
ini bukan jebakan.
Ini permainan.
Dan kamu…
sudah mulai menyadarinya.
Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Anbiya: 35)
Ayat ini bukan hanya tentang kematian.
Tapi tentang perjalanan.
Tentang ujian.
Tentang gerak.
Dan mungkin…
tentang horizon yang selalu ada…
hingga akhirnya kita benar-benar kembali.
Bukan ke tujuan dunia.
Tapi ke asal.
Dan di sana…
mungkin…
tidak ada lagi horizon.
Pesan untukmu yang membaca ini
Kalau kamu merasa hidup ini seperti tidak pernah selesai…
itu bukan berarti kamu salah.
Kalau kamu merasa selalu ada “lagi”…
itu bukan berarti kamu kurang.
Mungkin…
kamu hanya sedang hidup di dalam sistem yang memang seperti itu.
Jangan buru-buru ingin sampai.
Jangan terlalu keras mengejar.
Sesekali…
berhentilah.
Lihat ke dalam.
Rasakan.
Dan sadari…
bahwa kamu tidak sendirian dalam pola ini.
Semua orang berjalan.
Semua orang melihat horizon.
Tapi tidak semua orang…
menyadari bahwa horizon itu bergerak.
Dan ketika kamu mulai menyadarinya…
itu bukan akhir perjalanan.
Itu awal dari cara berjalan yang berbeda.
Bukan lagi sebagai pengejar.
Tapi sebagai pengamat.
Bukan lagi sebagai yang terjebak.
Tapi sebagai yang sadar.
Dan mungkin…
di situlah…
ketenangan mulai muncul.
✍️ Ditulis sebagai bagian dari rangkaian INTI – Interkoneksi Narasi Teknologi Intelektual.
0083 – Horizon yang Selalu Menjauh