INTI #0091

Sabar: Seni Menahan Tergesa sampai Penyelesaian Seluruh Proses

Ada sebuah percakapan yang tidak pernah selesai di kepala saya.

Percakapan itu biasanya muncul bukan di ruangan ber-AC,
bukan di atas meja kerja yang rapi,
dan bukan pula ketika saya sedang membaca buku tebal.

Ia muncul di atas aspal jalan raya.

Di antara deru truk gandeng jalur Krian,
di tengah kepulan debu sore hari yang menempel di jaket,
dan di getaran setang motor yang merambat ke pergelangan tangan
ketika saya menempuh perjalanan pulang:
dari Surabaya menuju Mojokerto.

Hampir setiap hari saya melakoni rute itu.
Pergi pagi ketika matahari belum sepenuhnya terik,
dan pulang sore ketika langit mulai lelah dan berubah warna menjadi tembaga.

Mengapa?
Karena kehidupan saya baru saja berganti babak.

Bulan September kemarin, saya resmi menikah.
Menikahi perempuan yang sama yang saya cintai sejak zaman SMK—sepuluh tahun yang lalu.
Yah namanya kehidupan pasti ada naik turunnya, tapi untungnya kami bisa bertahan sampai sejauh ini. melewati masa-masa kami yang sama-sama belum punya apa-apa, (Dan sekarang ya syukurlah masih punya tubuh ini dan diizinkan hidup.) hingga akhirnya kami berani memutuskan untuk melangkah bersama
dan kini menempati sebuah rumah kontrakan sederhana di Mojokerto.

Setiap hari saya pulang ke sana.
Menempuh puluhan kilometer di atas aspal demi kembali ke rumah kecil itu.

Dan di tengah perjalanan yang panjang, berdebu, dan menguras tenaga fisik itulah,
sebuah pertanyaan getir mengetuk pelan:

“Kenapa hidup ini selalu meminta kita untuk sabar, menerima, dan bersyukur?
Kenapa tiga kata itu selalu dijadikan konstanta dasar…
tapi anehnya, tidak pernah ada batas waktunya sampai kapan?”

1. Kegalauan Manusiawi: Sistem Tanpa Timeout

Bagi orang yang terbiasa berpikir runut dan logis,
ketiadaan batas waktu adalah sesuatu yang menggelisahkan.

Di dalam sistem komputasi, sebuah proses selalu memiliki parameter timeout.
Jika sebuah permintaan data dikirimkan, ia diberi tenggat:
tiga puluh detik, satu menit, atau lima menit.
Jika batas itu terlewati dan tidak ada jawaban, sistem akan berhenti menunggu.
Ia mencatat kegagalan, memutus sambungan, dan beralih ke hal lain.

Tetapi hidup tidak pernah memberi kita tanggal kedaluwarsa untuk bersabar.

Tidak ada plang pengumuman di langit yang berbunyi:
“Sabar ya, kamu cukup bertahan sampai tanggal 29 Oktober 2028 jam sepuluh pagi. Setelah itu semua kesulitan selesai.”

Tidak ada.

Loop kehidupannya terasa seperti while (true):
kamu bangun, kamu berusaha, kamu terantuk batu, kamu disuruh sabar,
lalu esoknya kamu harus mengulanginya lagi.

Dan jika kita jujur tanpa topeng kesalehan yang dibuat-buat:
manusia itu pasti merasa bosan.

Kita punya ego yang licik.
Kita punya nafsu yang ingin buru-buru memetik buah sebelum pohonnya cukup kuat.
Ada hari-hari di mana rasa lapar biologis dan rasa belum puas berteriak di dalam tubuh:
“Sampai kapan aku harus begini? Kapan giliranku mencicipi kemudahan tanpa harus menahan napas?”

Itu bukan suara pemberontakan.
Itu adalah jeritan daging, darah, dan tulang seorang manusia biasa yang merasa lelah.

Dan saya tahu persis rasa itu.
Ia hadir di punggung yang pegal sehabis menembus macet.
Ia hadir saat ada masalah setiap hari.
Ia hadir ketika melihat orang lain tampak melesat cepat dengan jalan pintas.

Lalu kenapa Sang Perancang hidup ini tidak pernah mencantumkan batas waktu?

Jawabannya sederhana dan menohok, ini menurut saya loh ya. kalian bebas bisa beranggapan sama atau beda:
karena jika ada batas waktunya, manusia tidak akan pernah belajar tumbuh.

Kalau kita tahu persis kapan kesulitan akan berakhir,
kita tidak akan pernah melatih otot jiwa.
Kita hanya akan menjadi manusia licik yang ngetem di pinggir jalan:
menghitung mundur kalender, pura-pura sabar sambil terus melirik jam tangan,
dan menunggu waktu habis tanpa pernah benar-benar hadir di hari ini.

Sabar yang diberi tanggal kedaluwarsa bukanlah keteguhan batin.
Itu hanyalah kontrak dagang transaksional.

2. Membongkar Mitos: Sabar Bukan Pasrah Pasif

Selama ini, banyak dari kita dijejali pemahaman yang keliru tentang sabar.

Kita diajari seolah-olah sabar itu adalah:
kamu diinjak-injak lalu kamu tersenyum;
kamu menderita lalu kamu menelan air matamu diam-diam tanpa boleh bersuara;
kamu kalah sebelum bertarung lalu menyebutnya takdir.

Pantas saja banyak orang muak mendengar kata sabar!
Pantas saja orang yang berpikir kritis merasa alergi,
karena konsep sabar yang seperti itu hanyalah candu bagi keputusasaan.

Secara hakikat, kata sabar (shabr) tidak pernah bermakna diam membeku.
Ia bermakna menahan kendali agar tidak keluar dari jalur.

Yah analoginya kereta yang punya jalur kiri dan kanan. Nah kita yang memegang kemudinya hanya boleh belok kiri dan kanan jika ada rel baru. Dan yah sabar menurut pandangan saya, kita tidak boleh sampai tergesa maju atau langsung keluar jalur.

Saat saya mengendarai motor di jalur Surabaya–Mojokerto saat hujan lebat:

  • Apakah sabar berarti saya mematikan mesin di tengah jalan lalu pasrah disambar truk? Tentu tidak.

  • Sabar berarti tangan saya tetap mencengkeram setang dengan tenang.

  • Mata saya tetap awas membaca genangan air di depan.

  • Kecepatan saya sesuaikan agar roda tidak selip.

  • Dan saya menolak tergesa-gesa menyalip kendaraan besar hanya karena ingin cepat sampai lima menit lebih awal tapi taruhannya nyawa, Karena telat ndak telat sebetulnya sama saja kok, paling ada omelan kecil dan itu bumbu manis pahitnya wkwk.

Itulah sabar:
sebuah tindakan aktif yang menuntut kewaspadaan tertinggi.
Bukan pasrah yang lumpuh, melainkan ketahanan yang kokoh (sustain). Pepatah jawa ada menyebutkan Eling Lan waspada, yah karena saya memang kebetulan orang jawa, makanya cukup familiar dengan pepatah tersebut.

3. Tiga Seni Sabar dalam Kenyataan Sehari-hari

Dari gesekan aspal, ruang kerja, dan bilik rumah kontrakan,
saya menyadari bahwa sabar bukanlah teori abstrak di awang-awang.
Ia adalah tiga keterampilan hidup yang sangat membumi:

(1) Seni Memaklumi

Memaklumi adalah kerelaan hati untuk melihat keterbatasan tanpa rasa benci.

  • Memaklumi bahwa diri kita sendiri bukanlah manusia super yang bisa menyelesaikan semua masalah dalam semalam.

  • Memaklumi bahwa orang tua, mertua, rekan kerja, dan bahkan pasangan hidup kita adalah manusia biasa yang membawa luka, kebiasaan, dan batas kemampuannya masing-masing.

  • Memaklumi bahwa keadaan sering kali tidak berjalan sesuai rencana yang kita susun rapi di atas kertas.

Ketika kita bisa memaklumi, ruang dada kita menjadi lapang.
Kita tidak lagi menuntut dunia untuk menjadi steril dan sempurna agar kita bisa merasa damai.

(2) Seni Mewajarkan

Inilah penawar racun bagi batin yang paling ampuh: mewajarkan.

Banyak penderitaan manusia menjadi dua kali lipat lebih berat
bukan karena peristiwanya sendiri,
melainkan karena drama batin yang kita tumpuk di atas peristiwa itu.

  • Mengendarai motor puluhan kilometer itu memang bikin lelah dan masuk angin. Itu wajar. Itu hukum fisika tubuh manusia. Mengapa harus ditambah drama: “Kenapa nasibku harus sengsara seperti ini?!”

  • Di awal pernikahan dan mengontrak rumah, wajar jika ada perdebatan kecil tentang mengatur uang belanja atau kebiasaan harian. Itu wajar. Itu proses dua kepala belajar menyelaraskan frekuensi. Mengapa harus dibumbui kepanikan: “Apakah kami salah memilih jalan?!”. ini hanya contoh loh ya, karena kebetulan kami sangat selaras wkwkwk.

  • Dalam pekerjaan, wajar jika ada sistem yang bermasalah atau klien yang menuntut di luar nalar. Itu wajar. Karena itulah kita dibayar untuk menyelesaikannya.

Begitu kita berkata: “Ya wajar, memang begini jalurnya,”
maka drama itu langsung gugur.
Yang tersisa hanyalah fakta mentah yang bisa kita urai satu per satu dengan kepala dingin.

(3) Seni Menahan Tergesa

Tergesa-gesa (al-‘ajalah) adalah penyakit purba manusia.

Kita ingin segera kaya sebelum mengerti cara mengelola amanah.
Kita ingin segera dipandang hebat sebelum memiliki kedalaman ilmu.
Kita ingin memetik buah manis dari sebuah pohon yang baru kita tanam kemarin sore.

Dan apa akibat dari ketergesaan?
Keputusan yang gegabah, utang yang menjerat, langkah yang terpeleset,
dan retaknya hubungan yang seharusnya bisa dirawat dengan sabar.

Menahan tergesa adalah seni membiarkan adonan mengembang di suhunya sendiri.
Ia adalah keberanian untuk berkata kepada diri sendiri:

“Tidak apa-apa hari ini baru sampai di sini.
Tidak apa-apa motor ini belum berganti mobil.
Tidak apa-apa rumah ini masih berstatus sewa.
Yang penting kita berjalan di rel yang benar, tanpa mencuri, tanpa menjilat, dan tanpa menjual kehormatan.”

yah memang seperti obat penenang kalimat diatas, sama kok saya juga manusia biasa. setidaknya bisa hidup ini merupakan hadiah terindah.

4. Janji Langit: Kabar Gembira… Tapi Kapan?

Di dalam Al-Qur’an, ada satu ayat yang sering kali dibacakan saat orang tertimpa musibah.
Tetapi jika kita membacanya dengan kacamata perjalanan hidup yang utuh,
ayat ini sebenarnya adalah peta realitas:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

(Wa lanabluwannakum bisyai-in minal khaufi wal juui wa naqshin minal amwaali wal anfusi wats-tsamaraat, wa basysyirish-shaabiriin)

“Dan sungguh akan Kami uji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
— (QS. Al-Baqarah: 155)

Dan perhatikan siapa yang dimaksud orang sabar di ayat selanjutnya:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

(Alladziina idzaa ashaabat-hum mushiibatun qaaluu innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun)

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali’.”
— (QS. Al-Baqarah: 156)

Lalu manusia bertanya:
Kabar gembiranya kapan datang?

Banyak orang membayangkan kabar gembira itu seperti akhir cerita di film Hollywood:
tiba-tiba esok pagi ada kiriman uang satu koper,
atau tiba-tiba semua masalah hidup lenyap dalam sekejap mata.

Bukan begitu cara semesta bekerja. Yah semesta sangat menyukai proses, baik proses lambat atau proses instan.

Kabar gembira bagi orang yang sabar sering kali datang tanpa terompet dan kembang api.
Ia hadir dalam bentuk-bentuk yang begitu sunyi sampai kita kerap lupa mensyukurinya:

  1. Kemerdekaan Batin:
    Ketika kamu sudah terbiasa melewati jalan terjal, rasa takutmu terhadap dunia perlahan lenyap. Kamu tidak lagi bisa diancam oleh kemiskinan, kamu tidak lagi silau oleh kemewahan orang lain, dan kamu tidak lagi bisa dijajah oleh gengsi palsu. Jiwa yang merdeka dari kecemasan—itu kabar gembira yang luar biasa.

  2. Keselamatan di Sepanjang Lintasan:
    Ketika saya menempuh rute Mojokerto–Surabaya pulang-pergi setiap hari, di tengah truk-truk besar dan lubang jalan yang mengintai… lalu saya bisa mematikan mesin motor di depan kontrakan dengan selamat tanpa kurang satu apa pun—itu adalah kabar gembira yang nyata.. Bukankah ini salah satu kemenangan seorang pria?, pulang kerumah bertemu istri tercinta hahahaha.

  3. Senyum Hangat di Pintu Kontrakan:
    Pintu dibuka, ada wajah perempuan yang menemani saya sejak masa SMK tersenyum menyambut, ada segelas air putih dan teh hangat yang disodorkan, dan ada tawa kecil membicarakan hal-hal remeh di meja makan—itu adalah surga kecil yang dikirimkan tunai hari ini.

Kabar gembira itu bukan peristiwa yang menunggu di masa depan.
Kabar gembira itu sedang terjadi di setiap tarikan napas kita yang masih diberi kekuatan untuk bertahan.

Bahkan jika kita diberikan instan tanpa proses yah pasti bosen, masak langsung hadiah si ya tuhan, manusia memang makhluk ndak jelas kan wkwkwk.

5. Menutup Lingkaran: Sampai Penyelesaian Seluruh Proses

Di dalam catatan terdahulu, saya pernah menulis dua risalah penting:

  • Di INTI 0089 (Penyelesaian Seluruh Proses), saya menyadari bahwa hidup ini bukanlah fragmen acak. Ia adalah sebuah alur panjang yang memiliki awal, tengah, dan akhir yang utuh. Tugas kita bukanlah memotong alur itu di tengah jalan, melainkan menjalaninya sampai tuntas.

  • Di INTI 0090 (Saya Tetap Saya), saya melihat bahwa di tengah perubahan status dari masa sekolah, bekerja, hingga akhirnya menikah, ada satu referensi diri (invariant) yang tidak pernah berubah. Yang mengalaminya tetaplah saya yang sama.

Lalu bagaimana si “Saya” ini bisa bertahan berjalan dari satu titik ke titik berikutnya
tanpa tumbang dan tanpa kehilangan arah?

Jawabannya adalah INTI 0091 hari ini:
Sabar: Seni Menahan Tergesa sampai Penyelesaian Seluruh Proses.

Sabar adalah bahan bakar agar sistem batin kita tetap sustain.
Ia adalah kesediaan untuk memeluk rasa lelah hari ini,
mewajarkan kekurangan yang ada yang terus dihitung oleh akal,
memaklumi keterbatasan manusiawi, karena kita bukan manusia super,
dan menahan diri agar tidak terburu-buru merusak jalan cerita yang sedang dirajut oleh Sang Maha Sutradara.

Sampai kapan?
Sampai seluruh babak proses ini selesai.
Sampai garis akhir yang telah ditentukan tiba.
Sampai nafas terakhir dilepaskan dan kita bisa tersenyum sambil berkata:
“Alhamdulillah, aku tidak menyerah di tengah jalan. Aku hadir sepenuhnya sampai selesai.”

Pesan kepada Pembaca

Untuk kamu yang barangkali hari ini sedang merasa lelah luar biasa…
Untuk kamu yang mungkin sedang menghitung hari dan bertanya dalam hati kapan masa sulit ini akan berakhir…
Untuk kamu yang sedang berjuang di jalanan, di bilik kontrakan kecil, atau di hadapan tumpukan masalah yang seolah tak ada habisnya: Untuk kamu yang terlilit hutang, semoga segera lunas. Untuk kamu yang menghadapi masalah keluarga, semoga cepat selesai, karena saya bahkan tidak bisa membayangkan sesulit apa masalah kalian. Hanya doa ketikan ini yang bisa saya sampaikan, kalian tidak sendiri, ada manusia lain yang sadar dan tetap menjalaninya seperti kalian.

Tarik napas panjang.

Keluarkan kepanikan dari rongga dadamu.
Kamu tidak sedang tertinggal dari siapa pun.
Dunia mungkin berisik menuntutmu untuk cepat sampai, cepat kaya, cepat berhasil, dan cepat pamer.
Tetapi realitas tidak bekerja dengan standar media sosial.

Maklumilah apa yang belum sempurna hari ini.
Wajarkanlah bahwa perjalanan menjadi manusia yang tangguh itu memang membuat tubuh pegal dan pikiran lelah.
Tahanlah dirimu dari ketergesaan yang hanya akan melukai orang-orang yang kamu sayangi.

Pegang terus setang kemudimu.
Jalani giliranmu hari ini dengan segenap kehormatan.
Dan percayalah:
selama kamu memilih untuk tetap hadir dan tidak lari,
kabar gembira itu tidak pernah meninggalkanmu.

Ia ada di setiap langkah yang kamu tempuh dengan sabar,
sampai seluruh proses ini menemukan kesempurnaannya.

Dan yakinlah penyelesaian seluruh proses itu benar adanya.

✦

"Menyulam Makna, Merekam Kesadaran — Satu INTI, Satu Napas."

Karya INTI Simpul #0091