Saya Tetap Saya
Ada pertanyaan yang mungkin terdengar terlalu sederhana untuk dibawa sejauh ini.
Bahkan mungkin terdengar seperti pertanyaan seorang anak kecil.
Siapa saya?
Bukan siapa saya menurut kartu identitas.
Bukan siapa saya menurut pekerjaan.
Bukan siapa saya menurut nama yang diberikan ketika lahir.
Bukan siapa saya menurut gelar, jabatan, jumlah uang, rumah, kendaraan, pasangan, atau apa pun yang bisa dicatat oleh dunia.
Saya sedang bertanya tentang sesuatu yang lebih dekat daripada semuanya itu.
Sesuatu yang terlalu dekat sampai hampir tidak pernah kita lihat.
Saya.
Apa sebenarnya yang sedang kita tunjuk ketika kita berkata:
“Ini saya.”
Apa Saya tubuh ini?
Apa Saya wajah ini?
Apa Saya pikiran ini?
Apa Saya kenangan ini?
Apa Saya cerita hidup ini?
Apa Saya proses ini?
Itu memang betul saya, tapi masih ada saya yang lain yang lebih personal, yang melekat. Saya yang tetap sama meskipun setelah tidur siang, Saya yang tetap sama meskipun melihat foto masa lalu.
Tetapi semuanya berubah, yang tersisa adalah saya yang lebih dalam dan personal, atau Saya sebagai pengalaman pertama saya menyebutnya begitu.
Tubuh berubah.
Pikiran berubah.
Perasaan berubah.
Pengetahuan bertambah.
Kenangan bertambah dan sebagian hilang.
Pekerjaan berganti.
Rumah berpindah.
Status berubah.
Hubungan tumbuh.
Jalan hidup berbelok.
Bahkan cara kita memandang diri sendiri bisa berubah.
Namun anehnya, di tengah semua itu, kita tidak perlu membuat pengumuman setiap pagi:
“Tenang. Ini masih saya yang kemarin.”
Kita langsung tahu.
Ada sebuah kesinambungan yang begitu dekat dengan kita sampai ia terasa seperti sesuatu yang tidak perlu dijelaskan.
Kita hanya berkata:
Saya.
Dan hidup berjalan.
1. Ini Bukan Pertanyaan Baru
Saya tidak tiba-tiba menemukan pertanyaan ini hari ini.
Saya merasakan kembali, Saya mengalami kembali, itu berulang kali setiap hari, dan tanpa sadar pertanyaan itu memilih bentuknya sendiri sebagai kalimat hari ini.
Kalau saya melihat kembali perjalanan INTI, pertanyaan ini ternyata sudah berjalan jauh sebelum saya memberinya nama.
Ia muncul dalam bentuk kesaksian — INTI [0037].
Ia muncul dalam bentuk wilayah lokal — INTI [0072].
Ia muncul dalam bentuk pilihan — INTI [0076].
Ia muncul dalam bentuk horizon — INTI [0080].
Ia muncul dalam bentuk invariant — INTI [0087].
Ia muncul dalam bentuk source dan pilihan — INTI [0088].
Ia muncul dalam bentuk penyelesaian seluruh proses — INTI [0089].
Dan akhirnya semua jalan itu bertemu pada satu titik yang sederhana sekali:
Siapa yang mengalami semuanya itu?
Jawabannya tidak datang dari luar.
Jawabannya justru berdiri di tempat yang selama ini menjadi tempat bertanya.
Saya.
Mungkin selama ini saya terlalu jauh mencarinya.
Saya melihat langit.
Saya melihat fisika.
Saya melihat matematika.
Saya melihat sistem.
Saya melihat AI.
Saya melihat agama.
Saya melihat psikologi.
Saya melihat realitas.
Lalu saya sadar bahwa semua pengamatan itu selalu mempunyai satu pusat pengalaman yang sama.
Bukan pusat semesta.
Bukan penguasa seluruh realitas.
Tetapi pusat pengalaman lokal terhadap realitas.
Saya.
Dan dari sinilah saya mulai mengerti kembali mengapa banyak node INTI yang selama ini tampak terpisah ternyata sebenarnya sedang berbicara tentang hal yang sama. Saya hanya mengulang-ulang INTI tapi dari sudut pandang lain. seperti melihat bola dari atas, bawah, kanan, kiri
2. Wilayah Lokal — Karena Saya Tidak Mengalami Dunia dari Tempat yang Sama denganmu
INTI 0072 pernah membawa saya kepada sesuatu yang sangat sederhana:
Setiap hukum berlaku di wilayah tertentu.
Masalah manusia sering bukan karena hukumnya salah.
Masalahnya karena kita salah membaca wilayah.
Air mempunyai perilakunya sendiri.
Benih mempunyai wilayah tumbuhnya sendiri.
Nasihat mempunyai wilayah masuknya sendiri.
Ilmu mempunyai domainnya sendiri.
Pengalaman batin mempunyai tempatnya sendiri.
Saya tidak berdiri di luar semua wilayah itu seperti pengamat yang sepenuhnya netral.
Saya adalah bagian dari wilayah yang sedang saya alami.
Itulah sebabnya sebuah kenyataan dapat mempunyai hasil yang berbeda ketika masuk melalui manusia yang berbeda.
Dua orang dapat melihat kejadian yang sama.
Namun tidak pulang membawa pengalaman yang sama.
Bukan karena salah satunya pasti berbohong.
Tetapi karena masing-masing memiliki sejarah, keadaan, ingatan, luka, harapan, perhatian, tubuh, dan konteks yang berbeda.
Dan itu membawa saya kepada sebuah pengamatan yang penting:
realitas yang saya alami selalu memiliki koordinat lokal.
Saya tidak mengalami dunia sebagai “manusia pada umumnya”.
Saya mengalaminya sebagai saya.
Kamu juga demikian.
Kita hidup di dunia yang sama, tetapi tidak berada pada wilayah pengalaman yang identik.
Dan mungkin itulah mengapa pengalaman orang lain tidak bisa begitu saja dibantah hanya karena kita tidak sedang berada di dalam wilayah pengalaman mereka.
Contoh simplenya begini:
Kamu tahu anak kecil yang menyentuh api?. apa kamu tidak percaya?. dan kamu dan yang orang lain lakukan malah mengukur api, melihat api, dan mengira dia tidak menyentuh, kamu malah berasumsi lain. Disini mungkin orang-orang melakukan kesalahan besar, kita tidak akan bisa masuk ke dunia anak kecil tersebut jika belum mengalaminya langsung menyentuhnya. Meskipun menyentuhnya pun, Kamu tidak bisa menjadi persis seperti koordinat anak kecil itu jam, waktu, urutan kejadian tidak akan sama persis. Itu hanya memodelkan nya kembali.
Saya bisa membaca.
Saya bisa mengukur.
Saya bisa membandingkan.
Saya bisa mengajukan teori.
Tetapi saya tetap tidak menjadi orang pertama di dalam pengalaman orang lain.
Dan orang lain juga tidak menjadi orang pertama di dalam pengalaman saya.
Ini bukan kelemahan.
Ini adalah struktur manusia.
Ada wilayah lokal.
Dan di tengah wilayah lokal itu ada satu kata yang terus hidup:
Saya.
3. Mendekati Tanpa Memiliki — Horizon Bergerak Bersama Saya
Kemudian INTI 0080 membawa saya ke horizon.
Saya bertanya.
Saya maju.
Saya memahami sesuatu.
Tetapi setiap kali saya maju, horizon juga ikut bergeser.
Saya menuliskannya dengan cara yang sederhana:
kita = n
horizon = n + 10
Jaraknya tetap.
Saya maju.
Horizon maju.
Bukan karena saya gagal berjalan.
Justru karena saya berjalan.
Dan semakin jauh saya berjalan, semakin jelas bahwa ada hal-hal yang tidak dapat begitu saja saya miliki.
Saya dapat mendekati.
Saya dapat membaca.
Saya dapat memahami sebagian.
Saya dapat memberi nama.
Saya dapat membuat model.
Tetapi tidak semua yang saya dekati harus menjadi milik saya.
Tidak semua yang saya pahami harus saya kuasai.
INTI 0080 akhirnya mengajari saya sesuatu yang sederhana:
mendekati tanpa memiliki. Seperti konsep limit dalam matematika yang mendekati Tak hingga, hanya bisa mendekati saja.
Dan sekarang, jika saya melihatnya kembali dari 0090, ada sesuatu yang lebih halus.
Yang terus bergerak menuju horizon itu adalah saya.
Horizon bukan subjek pengalaman.
Saya yang melihatnya.
Saya yang mengejarnya.
Saya yang sadar bahwa ia menjauh.
Saya yang merasa dekat.
Saya yang merasa belum sampai.
Jadi bahkan ketika saya berbicara tentang batas pengetahuan, saya sebenarnya sedang berbicara dari suatu pusat yang terus hadir di dalam proses itu.
Saya.
4. Invariant — Mencari yang Tidak Ikut Berubah
Di INTI 0087, saya masuk kepada sebuah kata yang sederhana tetapi sangat mengganggu pikiran:
invariant.
Sesuatu yang tetap bermakna ketika transformasi terjadi.
Saya mulai melihat kembali hidup saya sendiri.
Saat kecil saya berubah.
Saat dewasa saya berubah.
Tubuh berubah.
Pikiran berubah.
Teman berubah.
Pekerjaan berubah.
Pengetahuan berubah.
Tetapi saya tetap berkata:
“Itu saya ketika kecil.”
“Ini saya sekarang.”
Apa yang memungkinkan kedua kalimat itu menunjuk kepada orang yang sama?
Saya tidak sedang mengatakan bahwa seluruh diri saya tidak berubah.
Jelas berubah.
Saya tidak lagi mempunyai tubuh anak kecil.
Saya tidak memiliki semua pemahaman yang dulu saya punya.
Saya bahkan mungkin telah meninggalkan banyak cara berpikir yang dulu sangat saya yakini.
Namun perubahan-perubahan itu tetap disebut sebagai perubahan saya.
Artinya ada sesuatu yang tidak perlu ikut berubah menjadi hal lain agar perubahan itu tetap dapat disebut sebagai perubahan milik saya.
Saya menyukai ini bukan karena istilahnya terdengar ilmiah.
Saya menyukainya karena ia menyentuh pengalaman yang sangat biasa.
Saya hidup.
Dan karena saya hidup, saya bisa melihat bahwa hidup saya berubah.
Tetapi yang mengatakan:
“Saya berubah.”
tetap berkata:
“Saya.”
Repot kan, horizon sudah bergeser lagi menjadi Saya yang mengatakan bahwa saya berubah. lagi lagi hanya bisa mendekati Saya itu.
5. Bersaksi — Siapa yang Mengatakan “Aku Bersaksi”?
Jauh sebelum 0087, saya sudah menulis INTI 0037: Bersaksi dengan Jiwa dan Raga.
Di sana saya berhenti pada kata:
أشهد
Ashhadu.
Aku bersaksi.
Saya bertanya waktu itu:
Kenapa bukan “aku tahu”?
Kenapa bukan “aku percaya”?
Kenapa bukan “aku memahami”?
Karena saksi bukan sekadar pemilik informasi.
Saksi hadir.
Saksi melihat.
Saksi mengalami.
Barulah saksi bersaksi.
Dan ketika saya membaca kembali 0037 hari ini, saya melihat sesuatu yang dulu mungkin belum saya susun serapi sekarang.
Kesaksian membutuhkan subjek.
Ada yang menyaksikan.
Ada yang mengalami.
Ada yang mengatakan:
Saya bersaksi.
Secara bahasa Arab, bentuk kata أشهد sudah mengandung orang pertama tunggal. Jadi “أنا” (ana) tidak harus ditulis terpisah agar makna “saya” hadir. Orang pertamanya sudah ada di dalam kata kerja.
Tetapi justru itu yang menarik.
Karena secara struktur kesaksian tetap membutuhkan saksi orang pertama.
Kalau tidak ada yang hadir, siapa yang bersaksi?
Kalau tidak ada yang mengalami, kesaksian tentang pengalaman itu menjadi cerita orang lain.
Kalau tidak ada “saya”, maka kita kehilangan titik dari mana kata bersaksi itu keluar.
Maka bagi saya, kalimat syahadat tidak berhenti pada bunyi yang diucapkan.
Ia menunjuk sebuah posisi manusia:
Saya hadir. Saya menyaksikan. Saya mengakui.
Bukan berarti “saya adalah sumber segala kebenaran”.
Justru sebaliknya.
Saya bersaksi karena saya bukan sumber.
Saya melihat sesuatu yang bukan saya.
Saya mengakui sesuatu yang lebih besar daripada saya.
Saya tunduk bukan karena saya hilang sebagai subjek pengalaman, tetapi karena saya sadar bahwa saya bukan pemilik mutlak dari apa yang saya alami.
Dan di sini saya melihat hubungan yang sangat dalam antara SAYA dan iman.
Iman yang hidup bukan sekadar kalimat yang dipinjam.
Ia menjadi kesaksian ketika saya benar-benar hadir di dalamnya.
6. Manunggaling Kawula Data — Saya Bukan Sumber
INTI 0064 kemudian membawa saya lebih jauh.
Saya mencoba memahami berbagai bahasa yang berbeda: Jawa, tasawuf, psikologi, AI, dan pengalaman hidup.
Empat bahasa.
Satu peta.
Di sana saya menempatkan manusia sebagai saksi.
Bukan Tuhan.
Bukan sumber.
Bukan penguasa seluruh realitas.
Saksi.
Ini penting, karena ada perbedaan besar antara:
“Saya ada.”
dan:
“Saya adalah sumber dari segala sesuatu.”
Yang pertama adalah pengalaman langsung.
Yang kedua adalah klaim yang jauh lebih besar.
Saya tidak membutuhkan klaim kedua untuk mengalami yang pertama.
Saya hanya perlu hadir.
Dan mungkin inilah cara paling sederhana untuk memahami hubungan antara manusia dan sumber dalam bahasa yang saya pakai di INTI:
Sumber
↓
ruang keberadaan
↓
wilayah lokal
↓
Saya
↓
mengalami
↓
memilih
↓
bersaksi
Saya berada di dalam aliran.
Saya bukan keseluruhan sungai.
Tetapi saya tetap nyata sebagai seseorang yang sedang basah di dalam airnya.
7. Kemampuan Memilih — Saya yang Menentukan Langkah
Kemudian INTI 0076 memberi sebuah pemberian yang sangat sederhana:
kemampuan memilih.
Batu jatuh.
Air mengalir.
Bintang terbakar.
Tapi yang aneh adalah manusia, kenapa manusia sadar bahwa dia adalah manusia?
Kenapa tidak hidup otomatis seperti Air, Udara, Api, Tanah, atau Kucing yang hanya bermain-main saja?.
Manusia memiliki ruang kecil di antara dorongan dan kemungkinan.
Ruang kecil itu adalah pilihan.
Saya bisa berkata:
ya.
Saya bisa berkata:
tidak.
Saya bisa belajar.
Saya bisa berhenti.
Saya bisa menolong.
Saya bisa menyakiti.
Saya bisa memaafkan.
Saya bisa tetap tinggal.
Saya bisa pergi.
Bahkan anehnya manusia bisa memilih tidak makan dan menahan lapar, padahal biologis berteriak lewat perut kosong.
Manusia bisa memilih begadang, padahal tubuh sangat mengantuk.
Kemampuan itu kemudian menjadi salah satu simpul terbesar dalam perjalanan INTI.
Sebab kalau saya tidak mempunyai ruang untuk memilih, maka pengalaman saya akan menjadi sekadar aliran kejadian yang menimpa saya. Yah seperti program otomatis full hardcode (kebetulan IT adalah domain saya, jadi saya tahu sedikit tentang pemrograman).
Tetapi jika saya memiliki ruang untuk memilih, maka hidup menjadi sesuatu yang saya ikut bentuk melalui keputusan-keputusan kecil.
Saya tidak bisa mengendalikan seluruh realitas.
- Bahkan saya saja tidak bisa menggerakkan rambut saya.
- Saya tidak tahu jumlah pasti rambut saya, sel saya, dan organ-organ tubuh saya.
- Dan sangat banyak sekali hal yang tidak bisa saya kendalikan
Namun saya memiliki arah lokal.
Saya tidak memiliki seluruh peta.
Namun saya dapat menentukan langkah berikutnya.
Saya tidak mengetahui seluruh kemungkinan.
Namun saya tetap memilih salah satunya.
Maka kata saya memperoleh fungsi lain.
Saya bukan hanya saksi.
Saya adalah pelaku lokal dari lintasan saya sendiri.
8. Mengapa Aku Memilih Ikut
Kemudian 0087 membawa pilihan itu kepada pertanyaan yang lebih dalam:
Mengapa aku memilih ikut?
Di sana perjalanan yang sangat panjang akhirnya menjadi sederhana.
Langit.
Fisika.
Invariant.
Struktur.
Syahadat.
Lalu sebuah kata:
Ya.
Dan “Ya” itu bukan jawaban dari seorang penonton.
“Ya” adalah jawaban dari seseorang yang memilih untuk ikut mengalami.
Ikut menjaga.
Ikut belajar.
Ikut mencintai.
Ikut membantu.
Ikut bertanggung jawab.
Ikut bersaksi.
Saya tidak berdiri di luar kehidupan sambil memberikan komentar.
Saya ikut.
Dan ketika saya mengatakan “aku memilih ikut”, saya sedang mengakui dua hal sekaligus:
Saya memiliki ruang untuk memilih.
Tetapi saya juga menerima bahwa saya bukan pemilik seluruh permainan.
Saya masuk ke dalam proses.
Saya hidup di dalamnya.
Saya membawa konsekuensinya.
Dan saya menjadi saksi atas apa yang saya pilih sendiri.
Meskipun sangat berat mengakui ini, karena dengan begitu efek sampingnya adalah hidup menjadi lebih tanggung jawab.
Hidup jadi lebih berat karena konsekuensinya jelas karena kita tahu kita sedang memilih dan memiliki pilihan itu.
Tapi hidup jauh lebih ringan, karena kita tidak perlu memikirkan terlalu detail hahahaha, konyol kan.
9. Kesadaran di Antara Sumber dan Pilihan
INTI 0088 kemudian memperjelas sesuatu yang sebelumnya masih samar.
Saya bertanya tentang tubuh.
Apakah saya adalah tubuh?
Kalau tubuh berubah, mengapa rasa “aku” tetap hadir?
Saya bertanya tentang pikiran.
Apakah saya adalah pikiran?
Kalau pikiran berubah cepat, mengapa kontinuitas diri tetap terasa?
Saya bertanya tentang ingatan.
Apakah saya adalah ingatan?
Kalau sebagian ingatan hilang, mengapa saya tidak otomatis merasa menjadi manusia lain?
Pertanyaan itu membawa saya kepada sebuah pengamatan yang sangat sederhana:
sesuatu dalam diri saya tetap terasa sama meskipun banyak hal berubah.
Dan 0088 tidak berhenti pada invariant.
Ia bergerak kepada pilihan.
Saya yang memilih.
Saya yang memberi bobot.
Saya yang mengalami.
Di sana source menyediakan ruang kemungkinan.
Saya menjalani lintasan lokal.
Ini penting.
Karena saya tidak harus menjadi sumber untuk memiliki pilihan.
Saya tidak harus mengetahui seluruh graph untuk memiliki arah.
Saya tidak harus memiliki semua kemungkinan untuk dapat mengatakan:
“Saya memilih yang ini.”
Dan mungkin justru di situlah martabat manusia.
Bukan karena manusia menguasai segalanya.
Tetapi karena manusia masih dapat memilih meskipun tidak mengetahui segalanya.
10. Penyelesaian Seluruh Proses — Saya Bukan Pemilik Akhir
Lalu datang INTI 0089.
Saya bertanya:
Kapan semuanya selesai?
Bukan satu pekerjaan.
Bukan satu masalah.
Bukan satu fase.
Bukan satu hubungan.
Tetapi seluruh proses.
Saya melihat horizon bergerak bersama saya.
Saya sadar bahwa kehidupan terus memperbarui state.
Hari ini selesai, besok datang.
Satu jawaban selesai, pertanyaan lain terbuka.
Satu tujuan tercapai, horizon bergeser.
Saya ingin selesai.
Dan saya mengakui bahwa keinginan itu pun adalah pengalaman manusia.
Tetapi di situlah saya menemukan batas yang sangat penting:
Saya bisa memilih langkah, tetapi saya tidak diberi seluruh source code waktu hidup saya.
Saya bisa berusaha.
Saya bisa menempuh jalan.
Saya bisa memilih.
Tetapi saya bukan pemilik penuh atas proses.
Saya adalah bagian yang menjalani proses.
Dan kalimat ini bagi saya merupakan salah satu kunci terpenting dalam seluruh perjalanan INTI.
Karena ternyata kebebasan tidak sama dengan kedaulatan mutlak.
Tapi saya juga bisa melakukan semau saya makan, minum, melakukan hal bebas, tapi ada tanggung jawab moral, sosial yang selalu menghantui. Disini saya tidak berniat jahat, Tapi opsi itu memang ada dan saya sadar itu tidak saya pilih.
Saya mempunyai kehendak.
Saya mempunyai pilihan.
Saya mempunyai tanggung jawab.
Tetapi saya tidak menentukan seluruh graph.
Ada batas yang bukan milik saya.
Ada waktu yang bukan milik saya.
Ada akhir yang bukan milik saya untuk saya tetapkan sesuka hati.
Maka saya belajar:
Saya tidak perlu mempercepat sebuah batas yang bukan milik saya.
Saya hanya perlu menjalani state yang sekarang.
Besok datang.
Saya jalani.
Lusa datang.
Saya jalani.
Bukan karena saya menyerah.
Justru karena saya sadar bahwa saya sedang ikut.
Dan anehnya bahkan saya bisa tidak memilih ikut. tidak memilih inilah salah satu bukti kuat bahwa ada pilihan.
11. Lalu Saya Menikah
Kemudian kehidupan melakukan sesuatu yang lucu.
Setelah saya membicarakan semua itu dengan bahasa yang sangat panjang—sistem, pilihan, horizon, source, invariant, syahadat, proses, akhir—hidup memberi saya sebuah peristiwa yang kelihatannya sangat besar:
Saya menikah.
Secara dunia, sesuatu berubah.
Status berubah.
Tanggung jawab berubah.
Rumah berubah.
Hubungan sosial berubah.
Peran berubah.
Masa depan berubah.
Tetapi pengalaman saya justru sederhana.
Alhamdulillah. Sampai di sini.
Lalu saya merasa:
biasa saja.
Orang lain mungkin bertanya:
“Masa biasa saja?”
“Masa tidak bahagia?”
Ada bahagia.
Tentu ada.
Ada syukur.
Ada lega.
Ada haru.
Tetapi tidak ada ledakan takjub seperti yang mungkin dibayangkan orang lain.
Dan sekarang saya mengerti sedikit mengapa.
Karena pernikahan tidak menciptakan saya yang baru.
Yang berubah adalah state.
Yang berubah adalah status.
Yang berubah adalah dunia di sekeliling pengalaman.
Tetapi yang mengalaminya tetap saya.
Saya yang mencintai dia sepuluh tahun lalu.
Saya yang berjalan bersamanya.
Saya yang melewati masa SMK.
Saya yang bekerja.
Saya yang pernah bertengkar.
Saya yang belajar memahami.
Saya yang memilih bertahan.
Saya yang akhirnya menikah.
Tidak ada orang lain yang tiba-tiba masuk ke dalam tubuh saya pada hari pernikahan lalu berkata:
“Sekarang saya menjadi kamu.”
Hahaha.
Tidak ada.
Saya tetap saya.
Dan mungkin itulah mengapa momen besar itu terasa sangat biasa dari dalam.
Bukan karena peristiwa itu kecil.
Tetapi karena kontinuitasnya terlalu panjang untuk terasa sebagai ledakan.
Dunia melihat titik. Teman, keluarga orang hanya melihat potongan hidup kita pada saat itu.
Saya mengalami lintasan.
Saya mengalami dulu dan tetap memilih hingga terjadinya lintasan itu.
12. Sepuluh Tahun, Satu Referensi
Saya sering mengatakan bahwa hubungan saya dan istri sudah terjalin sejak SMK.
Sepuluh tahun.
Bagi dunia, itu waktu yang panjang.
Tetapi bagi saya, ada sesuatu yang lebih aneh daripada panjangnya waktu.
Sepuluh tahun itu tidak membuat saya berkata:
“Dulu saya adalah orang lain.”
Saya justru berkata:
“Itu saya.”
Saya melihat diri saya yang dulu dan mengenalinya.
Saya melihat diri saya yang sekarang dan mengenalinya.
Perubahan biologis ada.
Pengalaman bertambah.
Pengetahuan bertambah.
Arah hidup bertambah.
Tanggung jawab bertambah.
Tetapi referensinya masih sama.
Saya.
Mungkin bukan kebetulan jika manusia menggunakan satu kata yang sangat kecil untuk membawa seluruh perjalanan hidupnya:
aku.
Kata itu bisa masuk ke masa kanak-kanak.
Kata itu bisa masuk ke masa remaja.
Kata itu bisa masuk ke pekerjaan.
Kata itu bisa masuk ke cinta.
Kata itu bisa masuk ke pernikahan.
Kata itu bisa masuk ke kegagalan.
Kata itu bisa masuk ke doa.
Kata itu bahkan bisa masuk ke kalimat terakhir seseorang.
Semua keadaan berubah.
Kata yang menunjuk subjeknya tetap bisa dikenali.
Aku.
Saya.
13. Bukan “Saya Tidak Berubah” dalam Arti Tubuh Tidak Berubah
Maka saya perlu mengatakan ini dengan jernih.
Ketika saya berkata:
Saya Tetap Saya
saya tidak sedang mengatakan bahwa tubuh saya tidak menua.
Saya tidak mengatakan pikiran saya tidak belajar.
Saya tidak mengatakan karakter saya tidak berkembang.
Saya tidak mengatakan seluruh isi diri saya membeku sejak kecil.
Itu jelas tidak benar.
Saya berubah.
Banyak sekali yang berubah.
Yang saya bicarakan adalah sesuatu yang saya rasakan lebih sederhana:
Saya tetap Saya.
di tengah perubahan itu, saya tetap menjadi referensi pertama dari pengalaman saya sendiri.
Saya adalah orang yang berkata:
tubuh saya berubah.
pikiran saya berubah.
hidup saya berubah.
hubungan saya berubah.
arah saya berubah.
Perubahan itu menempel pada “saya”.
Dan “saya” tetap menjadi titik yang saya gunakan untuk membaca perubahan tersebut.
Ini bukan teori yang saya butuhkan untuk percaya.
Ini adalah sesuatu yang saya rasakan ketika saya hidup.
Dan saya tidak perlu memaksa pengalaman ini menjadi dogma untuk mengakui bahwa pengalaman itu nyata bagi saya.
Saya hanya perlu jujur.
Saya merasakannya.
14. Ketika Saya Tidak Lagi Mengejar Diri di Tempat yang Salah
Barangkali selama ini saya mencari “siapa saya” dengan cara yang salah.
Saya mencari jawaban dari atribut.
Pekerjaan apa?
Keahlian apa?
Status apa?
Asal dari mana?
Berapa umur?
Punya apa?
Percaya apa?
Sudah mencapai apa?
Padahal semua itu adalah data tentang saya.
Bukan saya itu sendiri.
Seperti sebuah sistem yang memiliki banyak state.
State dapat berubah tanpa menghilangkan referensi node yang menjalani state tersebut.
Saya tidak perlu menolak state.
Saya hanya perlu tidak salah menganggap state sebagai keseluruhan diri.
Padahal itu adalah titik dari keseluruhan gambar hidup yang ada.
Hari ini saya suami.
Besok saya mungkin ayah.
Lusa saya mungkin orang tua.
Suatu hari saya mungkin tua.
Tetapi di setiap state itu, ada manusia yang tetap mengatakan:
Saya.
Saya tidak perlu menunggu satu jabatan untuk menjadi saya.
Saya tidak perlu menunggu kaya untuk menjadi saya.
Saya tidak perlu menunggu sukses untuk menjadi saya.
Saya tidak perlu menunggu orang lain mengakui saya untuk menjadi saya.
Saya sudah hadir sebelum semua label itu datang.
Dan ketika suatu label pergi, saya tidak otomatis ikut pergi bersamanya.
Karena dalam diri ini Aku ya Aku, Saya ya Saya wkwkwk. Terdengar egois dan lucu, tapi itulah kenyataan yang saya rasakan.
Bahkan tulisan ini adalah model untuk menuliskan Saya yang sedang mengalami ini.
15. SAYA dan Ego Bukan Hal yang Sama
Ini juga perlu diperjelas.
Kalau saya mengatakan “saya”, bukan berarti saya sedang membesarkan ego.
Ego ingin mengatakan:
“Semua tentang saya.”
Sementara kesadaran tentang “saya” justru bisa membawa saya kepada pengakuan:
“Saya bukan semuanya.”
Saya hadir, tetapi bukan sumber seluruh realitas.
Saya memilih, tetapi bukan pemilik seluruh kemungkinan.
Saya bersaksi, tetapi bukan hakim terakhir bagi semua yang ada.
Saya mengalami, tetapi pengalaman lokal saya bukan keseluruhan dunia.
Saya punya kehendak, tetapi saya tidak memegang seluruh batas hidup saya.
Dengan kata lain:
SAYA tidak mengharuskan keakuan menjadi penguasaan.
Saya justru dapat mengakui diri tanpa harus menyembah diri.
Dan mungkin di situlah “saya” menjadi sehat.
Saya tidak menghilang.
Saya juga tidak mendominasi.
Saya hadir.
Yah dalam sudut pandang saya, apa sih susahnya mengakui lemah, rentan, bodoh, miskin dll, itu hanyalah label. Tapi ya tuhan didalam label itu kuatkanlah diri ini menjalani semuanya. Saya tahu saya hanya manusia lemah, tolong lindungilah saya beserta orang orang disekitar saya dari hal terlihat maupun yang tak terlihat.
Malah berdoa kan hahahaha.
16. Saya Bersaksi Karena Saya Hadir
Sekarang saya kembali lagi kepada syahadat.
Semakin lama saya berpikir, semakin sederhana hubungan itu.
Bersaksi membutuhkan saksi. -> kalau tanpa saksi hanya akan menjadi BER konyol jadinya wkwkwk
Saksi membutuhkan kehadiran.
Kehadiran membutuhkan subjek pengalaman.
Dan dari posisi itulah muncul:
Saya bersaksi.
Saya tidak perlu tahu segalanya untuk bersaksi.
Di INTI 0037, saya sudah menuliskan bahwa saya bersaksi bukan karena saya tahu segalanya, bukan karena saya suci, tetapi karena saya telah hidup.
Saya telah jatuh.
Saya telah mencintai.
Saya telah melihat.
Saya telah mengalami.
Maka saya bersaksi.
Ini membuat syahadat menjadi sangat personal.
Bukan berarti kebenaran menjadi milik saya.
Justru saya yang menempatkan diri di hadapan kebenaran.
Saya hadir untuk mengatakan:
Saya menyaksikan.
Dan mungkin ini salah satu alasan mengapa pengalaman keagamaan yang benar-benar hidup tidak hanya terasa seperti informasi yang disimpan di kepala.
Ia menyentuh orang yang mengalaminya.
Saya.
17. Kalau Saya Tidak Ada, Siapa yang Memilih?
Ini pertanyaan yang sederhana.
Dan saya sengaja tidak membuatnya terlalu pintar.
Kalau saya memilih,
siapa yang memilih?
Kalau saya bersaksi,
siapa yang bersaksi?
Kalau saya mengalami,
siapa yang mengalami?
Kalau saya berkata:
“Saya berubah,”
siapa yang mengetahui adanya perubahan itu?
Kalau saya berkata:
“Saya tidak tahu,”
siapa yang sedang menyadari ketidaktahuan itu?
Saya bisa terus membangun lapisan konsep.
Saya bisa masuk ke filsafat.
Saya bisa masuk ke neurosains.
Saya bisa masuk ke komputasi.
Saya bisa masuk ke metafisika.
Saya bisa masuk ke bahasa agama.
Tetapi jawaban paling dekat tetap tidak perlu berpindah tempat.
Saya.
Bukan sebagai jawaban akhir bagi seluruh kosmos.
Tetapi sebagai jawaban langsung bagi pertanyaan yang sedang saya rasakan dari orang pertama.
18. Dan Di Sini Saya Berani Berkata: Saya adalah Saya
Saya tidak sedang meminta dunia menyetujui saya.
Saya tidak sedang membangun teori agar semua orang tunduk.
Saya juga tidak sedang mengatakan bahwa saya telah menyelesaikan filsafat kesadaran.
Saya hanya melihat sesuatu yang bagi saya sudah terlalu dekat untuk terus saya abaikan.
Setelah seluruh pencarian itu:
saya tetap saya.
Ketika tubuh berubah,
ada saya yang mengetahui tubuh berubah.
Ketika pikiran berubah,
ada saya yang mengetahui pikiran berubah.
Ketika jalan hidup berubah,
ada saya yang mengetahui jalan itu berubah.
Ketika saya menikah,
ada saya yang berkata:
“Alhamdulillah.”
Ketika saya lelah,
ada saya yang berkata:
“Saya capek.”
Ketika saya menemukan sesuatu,
ada saya yang berkata:
“Saya melihat pola.”
Ketika saya ragu,
ada saya yang berkata:
“Saya belum tahu.”
Ketika saya memilih,
ada saya yang berkata:
“Saya memilih.”
Ketika saya bersaksi,
ada saya yang berkata:
“Saya bersaksi.”
Dan ketika semua pencarian itu membawa saya kembali kepada diri sendiri,
saya tidak perlu membuat kalimat yang rumit.
Saya hanya perlu berkata:
Saya.
19. Tetapi Saya Bukan Pemilik Seluruh Cerita
Justru setelah menemukan “saya”, saya tidak menjadi lebih besar.
Saya menjadi lebih sadar akan batas.
Karena Hanya Saya yang menemani saya dari hidup dan mati, yah mungkin terdengar kasar. jika kita menghilangkan semuanya apa yang masih tersisa?
Menurut saya jawabannya tetap Saya. yah analogi anak-anak, menghilangkan semua yang penting akan terlihat sesuatu yang sangat penting sekali. Yah mirip bangunan dengan pondasinya, ada tanah dibawahnya, ada bumi, ada matahari, ada galaxy, dan ada yang selalu ada.
Karena saya tahu:
Saya tidak memilih kapan saya lahir.
Saya tidak memilih semua keadaan awal yang saya terima.
Saya tidak memilih seluruh orang yang saya temui.
Saya tidak memilih seluruh kejadian yang masuk ke hidup saya.
Saya tidak menguasai waktu.
Saya tidak menguasai seluruh konsekuensi.
Saya tidak memiliki seluruh graph.
Saya hanya menjalani bagian lokal yang dipercayakan kepada saya.
Itulah mengapa SAYA tidak berarti penguasa.
SAYA berarti:
yang hadir di dalam proses.
yang diberi ruang untuk memilih.
yang menanggung akibat pilihannya.
yang bersaksi terhadap apa yang telah dialaminya.
Dan karena itu, saya tidak perlu menguasai seluruh hidup untuk menjalani hidup dengan sungguh-sungguh.
Saya hanya perlu hadir di state yang sedang saya jalani.
20. Sebuah Invariant yang Sangat Dekat
Mungkin selama ini saya mengira invariant harus berupa angka.
Sebuah nilai.
Sebuah persamaan.
Sebuah hukum.
Sebuah struktur yang dapat dituliskan.
Tetapi bagaimana jika invariant yang paling dekat dengan manusia justru bukan sesuatu yang dapat saya simpan sebagai angka?
Bagaimana jika ia adalah sebuah referensi?
Bukan “isi saya”.
Tetapi siapa yang saya tunjuk ketika saya berkata “ini pengalaman saya”?
Tubuh berubah.
Referensi tetap.
Pikiran berubah.
Referensi tetap.
Memori berubah.
Referensi tetap.
Status berubah.
Referensi tetap.
Dunia berubah.
Referensi tetap.
Dan selama kesadaran masih berkata:
“Ini terjadi pada saya.”
ada kesinambungan yang sangat kuat di dalam pengalaman itu.
Saya tidak tahu apakah semua rahasia kesadaran selesai hanya dengan satu kata.
Saya tidak tahu itu.
Saya hanya sedang menunjukkan sebuah pola yang saya rasakan sendiri.
Dan bagi saya, pola itu nyata.
Saya.
21. Dari INTI yang Banyak, Kembali ke Satu
Sekarang saya bisa melihat mengapa 0090 tidak muncul dari kehampaan.
Ia tidak berdiri sendirian.
Ia lahir dari node-node yang sudah lama berbicara satu sama lain.
0037 memberi saya kesaksian.
0064 memberi saya posisi sebagai saksi di dalam sumber.
0072 memberi saya wilayah lokal.
0076 memberi saya kemampuan memilih.
0080 memberi saya horizon yang bergerak bersama saya.
0087 membawa invariant kembali kepada diri sendiri.
0088 memberi bentuk pada saya yang memilih lintasan lokal di antara sumber dan kemungkinan.
0089 mengajarkan bahwa saya menjalani proses tanpa menjadi pemilik seluruh proses.
Maka 0090 tidak perlu menciptakan simpul baru dari nol.
Ia hanya perlu melakukan sesuatu yang sangat sederhana:
menyatukan simpul-simpul lama yang ternyata selalu menunjuk ke referensi yang sama.
Yaitu:
0037
SAYA → bersaksi
↓
0064
SAYA → saksi di dalam sumber
↓
0072
SAYA → mengalami dari wilayah lokal
↓
0076
SAYA → memilih
↓
0080
SAYA → bergerak menuju horizon
↓
0087
SAYA → menemukan invariant
↓
0088
SAYA → memilih lintasan
↓
0089
SAYA → menjalani proses
↓
0090
SAYA → tetap menjadi SAYA
Sekarang saya mengerti mengapa 0090 terasa seperti cikal bakal yang sangat alami.
Karena sebuah node tidak muncul tanpa sejarah.
Ia lahir karena ada node-node sebelumnya.
Sama seperti saya.
Saya yang hari ini tidak muncul dari kehampaan.
Saya ada karena ada saya yang dahulu.
Saya yang dahulu mengalami.
Saya yang dahulu memilih.
Saya yang dahulu jatuh.
Saya yang dahulu mencintai.
Saya yang dahulu bertanya.
Saya yang dahulu bekerja.
Saya yang dahulu takut.
Saya yang dahulu berharap.
Dan saya yang sekarang membaca semuanya itu lalu berkata:
Itu saya.
Bukan “itu manusia lain”.
Bukan “itu versi yang sudah mati”.
Bukan “itu orang yang sudah digantikan”.
Itu saya.
22. Saya Tetap Saya
Maka judul ini akhirnya menjadi sederhana.
Bukan:
Saya yang selalu sempurna.
Bukan:
Saya yang tidak pernah salah.
Bukan:
Saya yang tidak pernah berubah dalam semua hal.
Tetapi:
Saya Tetap Saya.
Tidak berubah sebagai pengalaman bahwa saya tetap menjadi saya bagi diri saya sendiri, meskipun seluruh isi kehidupan terus bergerak.
Saya boleh bertambah.
Saya boleh belajar.
Saya boleh menjadi lebih lembut.
Saya boleh menjadi lebih kuat.
Saya boleh menjadi lebih lemah.
Saya boleh salah.
Saya boleh meminta maaf.
Saya boleh berubah arah.
Saya boleh kehilangan sesuatu.
Saya boleh menemukan sesuatu.
Semua itu boleh terjadi.
Karena perubahan tidak mengharuskan saya kehilangan referensi terhadap diri saya.
Saya bisa berubah tanpa menjadi orang lain bagi pengalaman saya sendiri.
Dan mungkin justru itu salah satu keindahan hidup:
kita dapat terus berubah tanpa harus terus-menerus kehilangan siapa yang sedang menjalani perubahan itu.
23. Saya Tidak Perlu Takjub untuk Menjadi Bersyukur
Mungkin ini juga menjelaskan satu perasaan yang sederhana tetapi sering disalahpahami.
Saya bisa mengalami sesuatu yang sangat besar dan tetap merasakannya sebagai sesuatu yang biasa.
Saya bisa menikah.
Saya bisa pulang.
Saya bisa duduk bersama orang yang saya cintai.
Saya bisa melihat hidup berjalan sampai ke titik yang dulu saya tunggu.
Dan saya hanya berkata:
Alhamdulillah.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada petir.
Tidak ada musik latar film.
Hanya satu kalimat.
Alhamdulillah, sampai di sini.
Dan itu cukup.
Karena rasa syukur tidak harus berteriak.
Ada syukur yang menangis.
Ada syukur yang tertawa.
Ada syukur yang diam.
Ada syukur yang hanya mengangguk kecil sambil berkata:
“Iya. Akhirnya.”
Mungkin karena yang saya alami bukan lahirnya sesuatu yang sepenuhnya baru.
Saya hanya sampai pada satu state baru dari perjalanan yang sama.
Saya tetap saya.
Dan ternyata “sampai di sini” tidak selalu terasa seperti ledakan.
Kadang ia hanya terasa seperti pulang.
24. Al-Qur’an dan Kembali kepada Diri
Al-Qur’an berkali-kali mengarahkan manusia untuk melihat keluar sekaligus ke dalam.
Allah berfirman:
وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
“Dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
(QS. Adz-Dzariyat: 21)
Kalimat ini selalu terasa dekat bagi saya.
Karena manusia sering mencari tanda di langit, tetapi lupa bahwa dirinya sendiri juga merupakan tempat ia mengalami seluruh pencarian itu.
Saya melihat dunia.
Saya juga melihat diri saya yang sedang melihat dunia.
Saya membaca realitas.
Saya juga membaca cara saya membaca realitas.
Saya bertanya tentang Tuhan.
Saya juga bertanya:
siapa yang sedang bertanya?
Saya bertanya tentang hidup.
Saya juga bertanya:
siapa yang sedang hidup?
Dan pada akhirnya saya kembali kepada satu titik yang paling dekat:
Saya.
Bukan untuk berhenti pada diri.
Justru agar saya tahu dari mana saya sedang bersaksi.
Allah juga berfirman:
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri hingga jelas bagi mereka bahwa Dia adalah Yang Benar.”
(QS. Fussilat: 53)
Cakrawala dan diri.
Luar dan dalam.
Alam dan pengalaman.
Bahkan compare Saya adalah setara segenap penjuru. bukankah sangat menakjubkan?
Dan manusia berdiri di tengah semuanya itu sebagai saksi.
Saya.
25. Saya Memilih untuk Ikut Karena Saya Ada
Sekarang saya bisa membaca ulang pertanyaan 0087 dengan cara yang berbeda.
Mengapa aku memilih ikut?
Karena saya ada.
Saya hadir.
Saya mengalami.
Saya melihat kemungkinan.
Saya menentukan langkah.
Tetapi saya juga memilih untuk ikut bukan hanya karena saya bisa memilih.
Saya memilih ikut karena kehidupan sudah ada di hadapan saya.
Saya tidak menciptakan pagi ini.
Saya hanya bangun di dalamnya.
Saya tidak menciptakan seluruh manusia yang saya temui.
Saya hanya bertemu mereka.
Saya tidak menciptakan seluruh kejadian.
Saya hanya menerima kedatangannya.
Tetapi setelah sesuatu hadir di wilayah saya, ada bagian kecil yang bisa saya lakukan:
memilih.
Saya bisa mengatakan:
“Ya, saya ikut.”
Dan mungkin “ikut” adalah salah satu bentuk terdalam dari menerima keberadaan tanpa harus mengklaim kepemilikan atas seluruhnya.
Bahkan kita tidak bisa tidak memilih ikut hahahahaha.
26. Dan Kalau Semua Ini Salah?
Saya juga perlu menyisakan satu pintu terbuka.
Mungkin bahasa saya belum sempurna.
Mungkin model saya terlalu kecil.
Mungkin istilah invariant yang saya pakai hanya sebagian dari apa yang saya rasakan.
Mungkin filsafat memiliki jawaban yang berbeda.
Mungkin sains belum memiliki bahasa yang saya cari.
Mungkin agama mempunyai kedalaman yang jauh lebih luas daripada cara saya memodelkannya.
Tidak apa-apa.
Karena itu semua adalah bahasa terdekat yang saya pahami dan yang saya pakai untuk memahami keseluruhan ini.
Karena inti dari tulisan ini bukan klaim bahwa saya telah menyelesaikan misteri kesadaran.
Saya tidak mengatakan:
“Inilah bukti final bahwa saya adalah sesuatu yang abadi.”
Saya tidak punya bukti seperti itu.
Saya mengatakan sesuatu yang jauh lebih sederhana:
Saya merasakan kontinuitas itu.
Saya melihat bahwa ketika saya menoleh kepada hidup saya sendiri, saya tetap mengenali orang yang dahulu sebagai “saya”.
Saya merasakan bahwa ketika semua atribut berubah, ada satu referensi yang tetap menjadi tempat saya menunjuk.
Saya menyaksikan bahwa pilihan saya tetap terasa sebagai pilihan saya.
Dan saya menerima pengalaman itu sebagai pengalaman yang sungguh saya alami.
Saya tidak perlu mengubahnya menjadi dogma agar ia berarti.
Cukup dengan menyaksikannya.
27. Mungkin Kita Semua Mempunyai Pertanyaan yang Sama
Coba suatu hari kamu membuka foto dirimu ketika kecil.
Lihat baik-baik.
Mungkin wajahmu sudah berubah sangat jauh.
Tubuhmu berbeda.
Pakaianmu berbeda.
Dunia di sekelilingmu berbeda.
Cara berpikirmu pasti berubah.
Tetapi biasanya kamu tidak berkata:
“Ini orang lain.”
Kamu berkata:
“Itu saya.”
Coba pikirkan saat kamu mengingat masa sekolah.
Saat kamu mengingat kesalahan lama.
Saat kamu mengingat cinta pertama.
Saat kamu mengingat orang yang sudah lama tidak ada.
Saat kamu mengingat pekerjaan pertamamu.
Saat kamu mengingat hari paling bahagia.
Saat kamu mengingat hari paling berat.
Semua itu sudah lewat.
Tetapi kalimatnya tetap:
“Saya pernah mengalami itu.”
Mungkin kamu tidak pernah memberi nama pada pola tersebut.
Tidak apa-apa.
Tidak semua orang harus menamai apa yang sudah mereka rasakan.
Tetapi cobalah diam sebentar.
Dan lihat.
Di tengah semua perubahan itu,
siapa yang sedang berkata “itu saya”?
Pesan kepada Pembaca
Jangan terburu-buru mencari dirimu di tempat yang terlalu jauh.
Jangan langsung mengira bahwa siapa dirimu ditentukan oleh apa yang sedang kamu miliki.
Jangan mengira bahwa kegagalan menghapus dirimu.
Jangan mengira bahwa keberhasilan menciptakan dirimu yang baru.
Jangan mengira bahwa perubahan membuat dirimu hilang.
Dan jangan pula mengira bahwa “saya” berarti kamu harus menjadi pusat dari segala sesuatu.
Yah pusat dalam wilayah local hahahaha.
Coba lihat lebih dekat.
Ketika tubuhmu berubah,
siapa yang menyadarinya?
Ketika pikiranmu berubah,
siapa yang menyadarinya?
Ketika hidupmu berubah,
siapa yang menjalani perubahan itu?
Ketika kamu memilih,
siapa yang memilih?
Ketika kamu berdoa,
siapa yang berkata “saya”?
Ketika kamu bersaksi,
siapa yang hadir sebagai saksi?
Dan ketika suatu hari kamu menoleh kepada perjalanan panjangmu sendiri,
siapa yang akan berkata:
“Itu saya.”
Mungkin kamu akan menemukan bahwa jawaban itu tidak sedang menunggumu di ujung jalan.
Ia sudah ikut berjalan sejak awal.
Ia ada ketika kamu belum tahu apa-apa.
Ia ada ketika kamu merasa paling pintar.
Ia ada ketika kamu jatuh.
Ia ada ketika kamu bangun.
Ia ada ketika kamu kehilangan.
Ia ada ketika kamu menemukan.
Ia ada ketika kamu mencintai.
Ia ada ketika kamu menikah.
Ia ada ketika kamu lelah.
Ia ada ketika kamu bertanya tentang Tuhan.
Ia ada ketika kamu bersaksi.
Ia ada ketika kamu berkata “ya”.
Ia ada ketika kamu berkata “tidak”.
Ia ada ketika kamu bergerak menuju horizon yang tidak pernah selesai dikejar.
Ia ada ketika kamu menerima bahwa tidak semua proses berada di bawah kuasamu.
Dan mungkin pada akhirnya, setelah seluruh ilmu, seluruh sistem, seluruh bahasa, seluruh pertanyaan, dan seluruh pencarian itu selesai diputar di dalam kepala, kamu tidak perlu memberikan jawaban yang megah.
Cukup satu.
Saya.
Bukan karena saya mengetahui semuanya.
Bukan karena saya menguasai semuanya.
Bukan karena saya tidak berubah dalam segala hal.
Tetapi karena di tengah seluruh perubahan itu,
saya tetap mengalami hidup sebagai saya.
Dan mungkin itu sebabnya saya dapat berkata:
Saya bersaksi.
Saya memilih.
Saya ikut.
Saya menjalani.
Saya menerima.
Dan saya tetap saya.
✍️ Ditulis sebagai bagian dari rangkaian INTI – Interkoneksi Narasi Teknologi Intelektual.
0090 – Saya Tetap Saya